Wali Asrama Sekolah Rakyat Sulsel Ikrar Totalitas, Siap Diberhentikan Jika Langgar Aturan

MAKASSAR – Ratusan wali asuh dan wali asrama Sekolah Rakyat se-Sulawesi Selatan membacakan ikrar untuk bekerja secara totalitas dan penuh empati. Mereka juga menyatakan kesiapannya untuk diberhentikan apabila melakukan pelanggaran terhadap aturan yang berlaku.

Ikrar tersebut diucapkan secara langsung di hadapan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul. Acara penguatan pengasuhan ini diselenggarakan di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Makassar, Sulawesi Selatan, pada Jumat (25/9).

“Saya, wali asrama dan wali asuh Sekolah Rakyat, siap bekerja dengan disiplin, penuh integritas dan bertanggung jawab, siap bekerja dengan empati dan sepenuh hati. Saya, wali asrama dan wali asuh Sekolah Rakyat siap diberhentikan jika melakukan pelanggaran, terutama pelanggaran yang berkaitan dengan perundungan, kekerasan, baik fisik maupun seksual, dan melakukan tindakan intoleransi,” demikian bunyi ikrar yang dibacakan oleh para peserta.

Dalam arahannya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menekankan pentingnya disiplin dan tanggung jawab bagi para wali asuh dan wali asrama Sekolah Rakyat. Menurutnya, mereka memegang peranan krusial sebagai kompas moral dan teladan bagi para siswa.

“Ini yang saya titipkan, dua ini saja. Satu, disiplin, dua, tanggung jawab. Dua-duanya ini dilaksanakan, itu sungguh bisa menuntun kerja kita,” ujar Gus Ipul.

Gus Ipul menjelaskan bahwa disiplin dalam arti yang utuh berarti para wali asuh dan wali asrama harus mematuhi kode etik, aturan, serta menjunjung tinggi integritas. Sementara itu, tanggung jawab dimaknai sebagai sikap tidak saling melempar tugas.

“Maka itu, saya minta kepada wali asrama, wali asuh, totalitaslah dalam bekerja, jangan setengah-setengah,” tegasnya.

Lebih lanjut, Gus Ipul mengingatkan bahwa siswa-siswi yang menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat merupakan anak-anak istimewa dengan latar belakang yang beragam. Sebagian dari mereka bahkan merupakan korban kekerasan, serta memiliki masalah kesehatan fisik maupun mental.

“Ini yang harus didampingi dengan baik oleh bapak-ibu sekalian, jangan sampai bapak-ibu sekalian malah justru melakukan tindakan-tindakan yang tidak semestinya,” jelasnya.

Oleh karena itu, Gus Ipul berpesan agar setiap wali asuh dan wali asrama bekerja dengan hati dan empati. “Maka itulah, bapak-ibu sekalian kerja di lingkungan Kementerian Sosial membutuhkan empati, harus bekerja dengan hati,” pungkasnya.

Tinggalkan komentar