AirNav dan Boeing Jajaki Kolaborasi Tingkatkan Efisiensi Bandara Bali

AirNav Indonesia dan The Boeing Company menjajaki kolaborasi strategis melalui penandatanganan letter of intent (LoI) atau kesepakatan awal. Kesepakatan ini akan mencakup studi mendalam untuk meningkatkan efisiensi ruang udara dan pergerakan pesawat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Tujuan utama inisiatif ini adalah untuk meningkatkan keselamatan penerbangan, efisiensi operasional baik di darat maupun udara, serta menekan emisi bahan bakar.

Penandatanganan LoI dilakukan oleh Direktur Utama AirNav Indonesia, Avirianto Suratno, dan Senior Managing Director Boeing Commercial Airplanes, Malcolm, di Hotel Sheraton Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Avirianto Suratno menjelaskan alasan pemilihan Bandara I Gusti Ngurah Rai sebagai lokasi studi.

“Di Bali itu kan memang harus ada peningkatan karena tidak ada taxiway. Sehingga nanti Boeing akan membantu bagaimana kita itu bisa meningkatkan khususnya keselamatan, penerbangan, dan efisien waktu di darat karena tidak ada taxiway paralel. Sedangkan kabin di Bali cukup panjang,” ujar Avirianto Suratno.

Lebih lanjut, Avirianto Suratno mengungkapkan bahwa kolaborasi ini ditargetkan untuk mengoptimalkan pergerakan pesawat dari kapasitas saat ini 33 per jam menjadi 34 hingga 40 pesawat per jam. Ia menambahkan bahwa kondisi operasional di Bali seringkali menyebabkan penumpukan keberangkatan dan kedatangan pesawat.

“Menggunakan teknologi untuk mengatur lalu lintas udara dan darat, targetnya meningkatkan pergerakan pesawat dari 33 per jam menjadi 34-40 per jam sekaligus menghemat bahan bakar dan emisi,” jelasnya. Ia merinci, “Jadi, kalau pesawat dari parking untuk taxi itu mundur, nah ketemu sama yang datang dalam satu area kan. Nah ini yang kita harus manage.”

Manajemen pergerakan pesawat yang dikembangkan di Bali ini diharapkan dapat diterapkan di bandara lain yang juga tidak memiliki taxiway paralel, jika studi awal menunjukkan keberhasilan. Masa uji coba studi ini akan berlangsung hingga Januari mendatang.

“Kalau mungkin di Bali sukses, nanti kita targetkan di bandara-bandara lain khususnya yang tidak punya taxiway paralel,” tuturnya.

Direktur Operasi AirNav, Setio Anggoro, menjelaskan bahwa tahap awal studi pengembangan akan dilakukan melalui pemodelan operasi menggunakan baseline model total airspace and airport modeler (TAAM). Model ini bertujuan untuk merepresentasikan kondisi operasional bandara yang sebenarnya.

“Jadi mulai dari studi. Misalnya kalau sama tim Boeing kita desain dulu yang awal, baseline. Jadi yang current operation didesain,” ujar Setio Anggoro.

Deputi Bidang Fasilitasi dan Sinergi Pembangunan, Hambara, menyambut baik harapan adanya transfer pengetahuan dari Boeing kepada AirNav. Ia berharap inisiatif ini juga akan meningkatkan kualitas layanan di bandara-bandara lain di Indonesia di masa depan.

“Harapan kita nantinya AirNav dengan Boeing ini sekaligus wadah untuk teman-teman AirNav itu bisa transfer knowledge-nya. Sehingga nanti untuk yang di bandara-bandara lain diharapkan teman-teman AirNav sendiri sudah bisa mendesain nanti ke depan,” kata Hambara.

Tinggalkan komentar