Jakarta – Aliran Kanal Banjir Timur (KBT) atau yang akrab disapa Banjir Kanal Timur (BKT) belakangan ini menjadi sorotan publik setelah beredarnya video yang menampilkan airnya berubah warna menjadi hijau pekat, menyerupai minuman populer ‘matca’. Fenomena tak biasa ini ternyata memiliki penjelasan ilmiah.
Berdasarkan pantauan di Jalan Inspeksi Kanal Timur, Cilincing, Jakarta Utara, pada Jumat (18/9/2026), terlihat jelas bahwa warna hijau tersebut berasal dari tumbuhan kecil yang mengambang di permukaan air. Petugas gabungan bersama alat berat tampak dikerahkan untuk membersihkan tumbuhan yang menutupi aliran KBT tersebut.
Syarif Hidayatulloh, Ketua Regu Penanganan Sampah di Badan Kali BKT Marunda, menjelaskan bahwa tumbuhan yang mengambang itu dikenal sebagai ‘mata lele’. Menurutnya, kemunculan mata lele ini merupakan fenomena yang kerap terjadi saat musim kemarau.
“Terjadinya kemunculan mata lele ini akibat kemarau panjang yang disebabkan tidak apa namanya aliran air ini tidak mengalir begitu deras gitu. Jadinya sehingga menimbulkan mata lele dari penghubung dan aliran-aliran yang masuk ke dalam BKT ini,” ujar Syarif.
Ia menambahkan bahwa jumlah mata lele yang terlihat tahun ini tergolong banyak karena kemarau telah berlangsung cukup panjang. Kondisi serupa tidak terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, seperti 2024 dan 2025.
“Nah, mata lele ini terjadi jikalau ada kemarau panjang seperti sekarang ini. Yang sebelum-sebelumnya seperti tahun 2025, tahun 2024 nggak ada,” jelasnya.
Fenomena mata lele ini telah berlangsung sekitar satu pekan, dengan puncak kemunculannya terjadi pada Kamis (17/9). Syarif memastikan bahwa mata lele yang berada di permukaan air tidak menyebabkan penyumbatan pada aliran KBT.
“Kalau untuk dampak, mungkin tidak ada penyumbatan air, nah kalau misalnya ini paling cuma warna saja, jadi permukaan air tertutup,” terangnya.
Sebagai penanganan, petugas telah memasang sekat di tengah sungai untuk menahan mata lele yang terbawa arus. Tumbuhan tersebut kemudian dikumpulkan di bantaran menggunakan jaring dan alat berat.
Syarif menegaskan bahwa kemunculan mata lele adalah fenomena alam yang sudah dipahami oleh warga setempat.
“Namanya seperti itu ya paling tanggapannya dari masyarakat banyak yang lihat katanya ya yang pada masyarakat umumnya yang warga-warga tinggal di sini, dia melihat nah komentarnya itu dia sudah biasa karena mata lele ini alam. Bukannya yang kita adanya mata lele ini kita biarkan atau kita sengaja,” tutupnya.