Abang None 2026: Ekonomi Kreatif dan Budaya Kunci Masa Depan Jakarta

Jakarta – Ajang pemilihan Abang None Jakarta 2026 yang berlangsung di Ciputra Artpreneur, Jakarta, pada Jumat (18/9) malam, tidak hanya menampilkan bakat dan wawasan para finalis. Babak penjurian akhir juga menjadi forum penting untuk mendiskusikan masa depan Jakarta, khususnya terkait pengembangan ekonomi kreatif serta pelestarian identitas budaya dalam menghadapi statusnya sebagai kota global.

Salah satu jawaban yang mencuri perhatian datang dari Herve Pierre Sidarta, 24 tahun, perwakilan Jakarta Selatan yang berhasil meraih gelar Juara Abang Jakarta 2026. Ia menanggapi pertanyaan dari Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengenai bagaimana pertumbuhan ekonomi Jakarta dapat memberikan lebih banyak kesempatan bagi generasi muda.

“Jakarta adalah kota dengan aktivitas ekonomi yang sangat besar. Tetapi menurut Anda, apa yang harus dilakukan agar pertumbuhan ekonomi Jakarta tidak hanya membuat kota semakin maju, tetapi juga semakin banyak membuka kesempatan bagi anak mudanya?” tanya Rano.

Pierre mengemukakan bahwa ekonomi kreatif merupakan salah satu solusi utama untuk memperluas peluang bagi anak muda. Ia berpendapat bahwa sektor ini memiliki rantai pasok yang panjang dan melibatkan berbagai pihak, mulai dari produksi pakaian hingga kain batik lokal.

“Ekonomi kreatif adalah jawabannya,” ujar Herve.

Ia menjelaskan bahwa sebuah produk sederhana seperti pakaian ternyata melibatkan banyak pelaku kreatif dalam proses produksinya. Rantai pasok ini mencakup kerja sama antara perajin, seniman, desainer, hingga pelaku usaha.

“Mulai dari pakaian dikenakan, contohnya kain batik yang dikenakan menjadi lokcan hari ini, melibatkan begitu banyak seniman di baliknya,” katanya.

Pierre menambahkan bahwa banyak anak muda Jakarta memiliki potensi untuk berkontribusi dalam rantai ekonomi kreatif tersebut. Oleh karena itu, ia mengajak generasi muda untuk terus berkarya dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta.

“Oleh karena itu, saya mengajak kepada seluruh anak muda Jakarta, mari kita terus berkarya, kita tingkatkan perekonomian melalui ekonomi kreatif, menuju Jakarta top 10 di global city,” tuturnya.

Sementara itu, isu berbeda diangkat oleh None Citra, 25 tahun, perwakilan Jakarta Timur yang menjadi Juara None 2026. Ia menjawab pertanyaan Rano Karno tentang bagaimana Jakarta dapat terhubung lebih baik dengan dunia dan berkembang sebagai kota global tanpa kehilangan identitas budayanya.

“Semakin Jakarta terhubung dengan dunia, semakin besar pula pengaruh budaya dan gaya hidup global. Bagaimana menurut Anda, Jakarta dapat menjadi kota semakin global tanpa kehilangan identitasnya?” tanya Rano.

Citra menekankan bahwa perjalanan Jakarta menuju kota global harus tetap berakar pada identitas budayanya. Menurutnya, kemajuan daerah tidak boleh mengorbankan warisan tradisi yang menjadi ciri khas masyarakat lokal.

“Jika Jakarta ingin menjadi kota global, kita harus berasas dengan budaya kita,” ujarnya.

Bagi Citra, menjaga budaya bukan sekadar melestarikan sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar tetap relevan bagi generasi masa kini dan mendatang.

“Saya percaya bahwa menyelamatkan budaya bukan hanya melindungi sejarah, tetapi juga menghidupkan nilai di dalamnya,” katanya.

Citra kemudian mengaitkan jawabannya dengan busana yang dikenakannya, batik pucuk rebung, yang menurutnya memiliki makna filosofis mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama.

“Batik pucuk rebung ini yang saya pakai malam ini memiliki makna yang dalam, ‘Hablumminallah wa Hablumminannas’,” kata Citra.

Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki hubungan vertikal dengan Tuhan dan horizontal dengan sesama. Oleh karena itu, perkembangan Jakarta sebagai kota global seharusnya selaras dengan upaya menjaga dan merawat budaya.

“Untuk itu, mari kita melindungi budaya untuk masa depan Jakarta,” ujarnya.

Jawaban Pierre dan Citra menunjukkan dua aspek yang saling melengkapi dalam memandang masa depan Jakarta. Pengembangan ekonomi kreatif dipandang sebagai ruang berkarya bagi generasi muda, sementara identitas budaya menjadi fondasi utama di tengah arus globalisasi. Keduanya menyampaikan pesan bahwa masa depan Jakarta tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga peran aktif generasi muda serta pelestarian identitas kota sebagai kunci dalam menghadapi perubahan zaman.

Tinggalkan komentar