Rano Karno Berduka: Indonesia Kehilangan Maestro Budaya Sejati

JAKARTA – Ketua DPP PDI Perjuangan, Rano Karno, menyampaikan pesan perpisahan yang mendalam saat pemakaman Guruh Soekarnoputra di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Dalam suasana haru, Rano Karno mengenang Guruh sebagai sosok seniman besar dan maestro budaya Indonesia yang tak tergantikan.

“Hari ini Indonesia kehilangan seorang seniman besar. Indonesia kehilangan seorang maestro budaya, keluarga besar PDI Perjuangan kehilangan seorang pejuang partai, dan kaum Marhaenis kehilangan salah seorang yang sepanjang hidupnya tetap membawa keyakinan tentang keberpihakan kepada rakyat,” ujar Rano Karno dengan suara bergetar.

Rano Karno menyoroti bahwa meskipun Guruh adalah putra dari Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati, ia tidak memilih untuk hidup dalam bayang-bayang nama besar orang tuanya. Sebaliknya, Guruh memilih untuk menciptakan jalannya sendiri yang berpusat pada kebudayaan.

“Mas Guruh adalah putra Bung Karno dan Ibu Fatmawati. Tetapi ia tidak memilih hanya hidup di bawah kebesaran nama orang tuanya. Dia memilih menciptakan jalannya sendiri, dan jalan itu bernama kebudayaan,” tuturnya.

Menurut Rano Karno, Guruh Soekarnoputra menunjukkan kecintaannya pada Indonesia melalui berbagai karya seni. Ciptaannya meliputi musik, panggung pertunjukan, hingga upaya penggalian kekayaan tradisi Nusantara.

“Mas Guruh mencintai Indonesia dengan cara yang sangat indah. Dia tidak hanya berbicara tentang Indonesia, ia menyanyikannya, ia menciptakan panggung untuknya, ia menggali kekayaan tradisinya, dan dia mempersembahkan hidupnya untuk kebudayaan Indonesia,” jelasnya.

Rano Karno juga mengenang beberapa karya ikonik Guruh, seperti lagu ‘Melati Suci’ dan ‘Untukmu, Indonesiaku’. Ia menekankan bahwa kedua lagu tersebut merupakan cerminan mendalam dari kecintaan Guruh terhadap Tanah Air.

“Dengarkan kembali ‘Melati Suci’. Ada kelembutan di sana, tetapi sekaligus ada kedalaman rasa yang membuat kita seperti disentuh oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar sebuah lagu,” ucapnya.

“Lalu dengarkan ‘Untukmu, Indonesiaku’. Karya itu seperti sebuah sumpah cinta kepada tanah air, tentang jiwa, raga, dan karya yang dipersembahkan untuk Indonesia,” sambungnya.

Lebih lanjut, Rano Karno menggambarkan Guruh sebagai sosok Marhaenis yang konsisten berpihak pada rakyat kecil. Keberpihakan ini bukan sekadar slogan politik bagi Guruh, melainkan sebuah prinsip hidup.

“Dalam berbagai kesempatan, Guruh memang dikenal selalu menekankan kembali ajaran Bung Karno, Pancasila, dan keberpihakan kepada rakyat. Karena itu, seni dan perjuangan politiknya dalam Mas Guruh sesungguhnya bertemu pada satu titik yang sama bernama Indonesia,” jelasnya.

Rano Karno juga mengapresiasi karya Guruh berupa Mars PDI Perjuangan yang telah menjadi bagian integral dari perjalanan dan tradisi partai, yang kerap dinyanyikan dalam berbagai kegiatan internal.

Sebagai bentuk penghormatan, PDI Perjuangan menginstruksikan seluruh jajarannya, dari DPP hingga anak ranting, untuk mengibarkan bendera partai setengah tiang selama tujuh hari.

“Biarlah bendera itu turun setengah tiang sebagai tanda duka, namun cita-citanya tetap tegak. Kecintaannya kepada rakyat harus tetap hidup dan kecintaan kepada Indonesia harus terus menyala,” tegasnya.

Di akhir pidatonya, Rano Karno menyampaikan salam perpisahan yang puitis, menggambarkan kepergian Guruh seperti berakhirnya sebuah pertunjukan megah di atas panggung.

“Mas Guruh, hari ini panggung dunia benar-benar menutup tirai untuk Mas. Tidak ada lagi lampu yang harus dinyalakan, tidak ada lagi panggung yang harus dipersiapkan, tidak ada lagi nada yang harus disusun,” ucap Rano.

“Tapi percayalah, tepuk tangan untuk perjalanan hidup Mas tidak akan berhenti hari ini,” tutupnya, memberikan penghormatan terakhir atas dedikasi dan karya Guruh Soekarnoputra.

Tinggalkan komentar