Guruh Soekarnoputra, seniman serba bisa dan adik dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, meninggalkan warisan pemikiran mendalam mengenai peran seni dalam perjuangan bangsa. Ia percaya bahwa seni memiliki kekuatan untuk menjadi alat perjuangan politik yang esensial bagi kelestarian budaya Indonesia.
Selama hidupnya, Guruh mendedikasikan diri pada berbagai bentuk seni, mulai dari tari, musik, akting, hingga mendirikan grup musik legendaris Guruh Gipsy. Di balik kiprahnya di dunia seni, Guruh memiliki keyakinan kuat bahwa seni seharusnya berfungsi sebagai sarana perjuangan untuk bangsa, khususnya dalam upaya melestarikan dan menjaga kekayaan seni serta budaya Indonesia.
“Perjuangan saya bukan untuk golongan atau kelompok tertentu. Perjuangan saya hanyalah untuk Indonesia tercinta dan perjuangan saya adalah perjuangan ideologi,” ujar Guruh dalam sebuah kesempatan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 20 Oktober 2011, seperti dikutip dari Antara.
Meskipun demikian, Guruh menekankan pentingnya bagi para seniman untuk memahami dunia politik, namun ia juga menegaskan perlunya menjaga dikotomi antara seni budaya dan ranah politik. “Kalau seniman tidak paham tentang politik, dia hanya akan diperalat sebagai alat kampanye untuk parpol tertentu. Dan saya tidak pernah akan rela untuk itu,” tegasnya.
Lebih lanjut, Guruh Soekarnoputra mengajak masyarakat untuk bersama-sama membimbing generasi muda agar memahami ideologi bangsa, Pancasila. Ia prihatin melihat fenomena di mana banyak orang mulai melupakan Pancasila sebagai dasar negara. Oleh karena itu, ia selalu berusaha memasukkan semangat nasionalisme ke dalam setiap lirik lagunya.
“Maka, boleh disimak syair semua lagu saya dari 1976 sarat akan makna untuk ikut membangkitkan kesadaran bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan antipenjajahan, yang masih ada sampai sekarang,” jelasnya.
Pria kelahiran Jakarta yang kala itu berusia 58 tahun, menceritakan pengalamannya dalam menyampaikan pandangannya melalui seni. “Pada 1976 sampai 1989, saya tidak bisa mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran saya secara terbuka. Maka dari itu saya menciptakan lagu yang syairnya bisa anda dengar dan rasakan, bahwa Indonesia kita sungguh kaya,” ungkapnya.
Guruh mengakui bahwa baru di era terkini ia dapat kembali mewujudkan pagelaran karya seninya secara lebih leluasa. Sebelumnya, berbagai kendala seperti resesi ekonomi pada 1998, masa transisi politik dari Orde Baru ke Reformasi, serta berbagai bencana alam yang melanda negeri menjadi faktor penghambat.
“Alasan saya yang lain adalah karena saya belum menemukan tempat yang memadai untuk pagelaran saya, hingga ada Teater Jakarta, yang baru beberapa bulan jadi,” jelasnya merujuk pada salah satu alasan penundaan.
Kini, Guruh Soekarnoputra, seorang politikus sekaligus seniman besar, telah berpulang. Namun, keyakinannya bahwa seni dapat menjadi alat perjuangan politik yang kuat untuk Indonesia, akan terus hidup dan menjadi inspirasi.