12 Bekantan Mati Terpanggang Akibat Karhutla di Hulu Sungai Selatan

Sebanyak 12 ekor bekantan, satwa endemik Kalimantan yang dilindungi, dilaporkan mati akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan. Peristiwa tragis ini dikonfirmasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Selatan.

Kepala BKSDA Kalsel, Agus Ngurah Krisna, menjelaskan bahwa laporan awal diterima pada Minggu, 13 September 2016, dari petugas pemadam kebakaran setempat dan masyarakat. Laporan tersebut mengenai dampak kebakaran di kawasan Area Penggunaan Lain (APL) Desa Balimau, yang juga merupakan habitat bekantan.

“Dari keterangan Kepala Desa Balimau terdapat sekitar 60 ekor bekantan di kawasan tersebut, namun jumlah populasi itu masih perlu diverifikasi BKSDA melalui pemantauan lapangan setelah kebakaran melanda habitat satwa dilindungi tersebut,” kata Agus kepada ANTARA.

Selain 12 ekor bekantan, kebakaran tersebut juga merenggut nyawa satwa lain. Agus menyebutkan ada satu ekor ular piton dan satu ekor ular king kobra yang ikut terbakar. Kawasan ini diketahui juga menjadi habitat bagi satwa lain seperti lutung dan monyet ekor panjang.

Tim penyelamat dari BKSDA Kalsel segera mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan. Mereka mengecek kondisi habitat yang terbakar, luas area yang terdampak, serta mengidentifikasi kemungkinan adanya satwa lain yang selamat namun membutuhkan pertolongan atau evakuasi.

Hasil pengecekan lapangan menunjukkan bahwa habitat bekantan di lokasi tersebut terbagi menjadi dua kawasan terpisah, masing-masing seluas sekitar dua hingga tiga hektare. Kedua kawasan ini dipisahkan oleh sebuah jalan, dengan satu area merupakan tanah milik desa dan area lainnya adalah lahan milik masyarakat.

Agus mengungkapkan bahwa kebakaran mayoritas terjadi di kawasan milik masyarakat, dengan sekitar 80 persen lahan terbakar. Kawasan tanah desa dilaporkan aman dari api. Bekantan yang mati ditemukan di area milik masyarakat tersebut.

Ia menambahkan bahwa kedua kawasan tersebut merupakan bagian dari wilayah jelajah bekantan. Satwa menggunakan area tersebut sebagai jalur pergerakan, meskipun habitatnya terfragmentasi dan tidak membentuk satu kesatuan ekosistem yang menyatu.

“Habitatnya memang terfragmentasi, jadi tidak satu hamparan habitat atau satu ekosistem yang menyatu, tetapi terpisah-pisah,” ucapnya.

Kondisi habitat yang terbatas, ditambah dengan api yang cukup besar dan angin kencang saat kejadian, diduga menjadi penyebab bekantan di kawasan tersebut tidak sempat menyelamatkan diri.

BKSDA Kalsel telah mengambil tindakan dengan menguburkan seluruh bangkai bekantan yang ditemukan. Apabila ditemukan indikasi kematian akibat faktor lain, seperti penembakan, bangkai tersebut akan dibawa untuk diperiksa lebih lanjut oleh dokter hewan.

Selanjutnya, BKSDA Kalsel akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pemerintah desa, dan kecamatan. Mereka juga mengajak masyarakat untuk turut serta menjaga habitat satwa dilindungi ini, sambil terus melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada lagi satwa yang membutuhkan evakuasi.

“Tim BKSDA masih mengecek kondisi bentang alam dan status lahan di kawasan APL tersebut untuk menentukan langkah penanganan berikutnya serta memastikan kondisi habitat dan satwa liar yang terdampak kebakaran,” pungkas Agus.

Tinggalkan komentar