Solok Pulihkan Akses Jalan dan Aliran Sungai Pasca-Banjir

Pemerintah terus mempercepat upaya pemulihan pascabencana banjir bandang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Fokus utama saat ini adalah normalisasi akses jalan, pemulihan aliran sungai, dan pemenuhan kebutuhan mendesak bagi warga yang terdampak.

Upaya pemulihan aliran sungai dilakukan melalui pengerukan Sungai Batang Baliang dan Sungai Koto Gaek dengan target menyelesaikan dua kilometer aliran sungai dalam dua minggu ke depan. Pengerukan ini melibatkan empat unit alat berat dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V. Material batu besar hasil pengerukan akan dimanfaatkan untuk memperkuat tebing dan tanggul penahan, sementara bagian hilir akan diperkuat dengan bronjong untuk mengatasi sedimentasi dan penyempitan aliran sungai.

Bersamaan dengan penanganan sungai, pembersihan jalur nasional Padang-Solok di kawasan Arosuka Km 36+600 juga terus dilakukan. Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat mengerahkan 26 unit alat berat dan kendaraan pendukung untuk menyingkirkan material batu, lumpur, dan puing lainnya. Selama proses pembersihan, lalu lintas di jalur tersebut diberlakukan sistem buka-tutup. Permukaan dan bahu jalan juga disemprot untuk mengurangi lapisan lumpur licin yang dapat membahayakan pengguna jalan. Dua mesin pemecah batu dioperasikan untuk menghancurkan material berukuran besar, sementara jembatan yang tersumbat material juga dibersihkan agar aliran air kembali lancar.

Ketua Tim Monev Khusus Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Kombes Pol Dennie Andreas Dharmawan, meninjau langsung penanganan di lapangan bersama Wakil Bupati Solok dan instansi teknis terkait. Ia memastikan bahwa jembatan yang terdampak banjir, baik di Jembatan Arosuka maupun di jalan poros, dibersihkan dari material yang menyumbat.

Dalam rangka menghadapi risiko banjir jangka panjang, penanganan di lapangan juga mencakup persiapan pembangunan infrastruktur di kawasan hulu. BWS Sumatera V tengah menyusun desain teknis sabo dam, dan Tim Supervisi merekomendasikan agar Posko Nasional Satgas PRR mengawal penyelesaian desain tersebut untuk memastikan rencana perlindungan dapat berlanjut ke tahap konstruksi.

Sementara itu, kebutuhan warga terdampak tetap menjadi prioritas. Hingga 24 September 2026, tercatat 411 jiwa terdampak langsung, dengan 53 keluarga atau 183 jiwa masih mengungsi. Kelompok rentan yang terdiri dari 38 lansia, 39 balita, enam bayi, dan tiga ibu hamil menjadi perhatian khusus.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih akibat terputusnya jaringan perpipaan, BPBPK Sumatera Barat telah mengerahkan tiga mobil tangki air ke posko pengungsian. Bantuan logistik awal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga telah disalurkan. Posko utama saat ini sedang mendata kembali kebutuhan perlengkapan bayi, kebutuhan perempuan, peralatan memasak, dan alat kebersihan.

Pendampingan kesehatan dan psikososial juga diberikan kepada kelompok rentan. Tim SAR gabungan masih melanjutkan pencarian terhadap satu warga yang dilaporkan hilang dengan memperluas area penyisiran hingga delapan kilometer, menggunakan alat berat, anjing pelacak, dan drone termal.

Seluruh upaya penanganan ini melibatkan lebih dari 1.000 personel gabungan dari berbagai instansi yang terbagi dalam empat sektor kerja. Personel juga dikerahkan untuk membersihkan kompleks perkantoran Pemkab Solok agar pelayanan masyarakat dapat segera pulih, mengingat 11 kantor dinas terdampak timbunan lumpur.

Tinggalkan komentar