Ratusan Duta GenRe Berkumpul di ADUJAKNAS 2026, Fokus Pembangunan Masa Depan Bangsa

Sebanyak 64 Duta Generasi Berencana (GenRe) yang mewakili 34 provinsi di Indonesia berkumpul dalam Puncak Apresiasi Duta dan Jambore Ajang Kreativitas GenRe Nasional (ADUJAKNAS) 2026. Acara ini dirancang sebagai platform bagi para remaja untuk berdiskusi, berkolaborasi, serta saling berbagi inovasi dan praktik terbaik dalam upaya pembangunan keluarga dan peningkatan ketahanan remaja.

Generasi muda menjadi tulang punggung bangsa di masa depan. Sekitar 66 persen dari total 287 juta penduduk Indonesia adalah anak-anak dan remaja yang berusia 10 hingga 24 tahun. Besarnya populasi kelompok usia produktif ini menjadi salah satu faktor krusial dalam menentukan arah pembangunan Indonesia menuju tahun 2045.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Wihaji, menekankan pentingnya peran GenRe sebagai garda terdepan dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan. “Mereka lah yang selama ini menjadi lini terdepan yang umur 10-24 tahun menjadi GenRe (Generasi Berencana) yang semangatnya tiga yaitu, satu kampanye tentang jangan melakukan sex pra-nikah, yang kedua jangan melakukan pernikahan dini dan yang ketiga jangan napza (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya),” ungkap Wihaji dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026).

Melalui gelaran ADUJAKNAS 2026, Wihaji berharap agar kreativitas dan gagasan yang dimiliki oleh para remaja tidak hanya berhenti pada ajang kompetisi semata. Ia mendorong agar ide-ide tersebut dapat terus berkembang menjadi praktik nyata yang memberikan dampak positif di lingkungan masing-masing. Semangat “Gen Z Impact: Gerak Nyata untuk Indonesia” juga diharapkan dapat memicu lahirnya berbagai inisiatif yang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat luas, tetapi juga turut memperkuat peran GenRe dalam mewujudkan pembangunan bangsa di masa mendatang.

Representative UNICEF Indonesia, Thomas Davin, menyoroti bahwa remaja Indonesia saat ini masih dihadapkan pada berbagai tantangan kompleks. Permasalahan seperti perkawinan anak, isu kesehatan mental, literasi digital yang perlu ditingkatkan, hingga penguatan karakter dan kepemimpinan, masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Oleh karena itu, ia menilai bahwa jejaring sebaya memegang peranan yang sangat penting dalam menjawab tantangan-tantangan tersebut.

“Kita tahu bahwa di berbagai wilayah Indonesia, anak muda telah saling menguatkan melalui jejaring teman sebaya yang terpercaya, dengan menghadirkan bimbingan, informasi, serta kesempatan untuk belajar, memimpin, dan berkolaborasi,” pungkasnya.

Tinggalkan komentar