Fenomena langit berwarna merah dan oranye yang terlihat di Paduran Sebangau, Kalimantan Tengah, beberapa waktu lalu, ternyata berkaitan erat dengan tingginya konsentrasi partikel atau aerosol asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan fenomena optik atmosfer yang diperkuat oleh kabut asap.
Plh. Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menyatakan bahwa berdasarkan dokumentasi yang beredar dan data pantauan kualitas udara pada 20 September 2026, langit merah di Paduran Sebangau sangat mungkin disebabkan oleh tingginya konsentrasi partikel asap di atmosfer.
Data pengamatan BMKG menunjukkan peningkatan signifikan konsentrasi PM2,5 sejak pagi hingga mencapai maksimum 1.142,9 µg/m³ pada pukul 14.00 WIB. Selama sekitar 21 jam, konsentrasi PM2,5 terpantau berada di atas 250,5 µg/m³, yang menurut BMKG termasuk dalam kategori berbahaya.
Analisis Ilmiah BMKG tentang Langit Merah
Secara meteorologis, BMKG menjelaskan bahwa keberadaan asap dalam jumlah besar dapat memengaruhi cara cahaya Matahari melewati atmosfer. Asap dari karhutla mengandung partikel berukuran sangat kecil atau aerosol. Ketika konsentrasinya tinggi, partikel-partikel ini membentuk lapisan asap tebal yang mengubah proses hamburan dan penyerapan cahaya Matahari.
“Dalam kondisi tersebut, sebagian cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek, seperti biru dan hijau, mengalami hamburan dan pelemahan yang lebih besar. Akibatnya, komponen cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang seperti merah dan oranye menjadi lebih dominan sampai ke mata pengamat,” jelas Ida.
Efek ini dapat semakin kuat ketika posisi Matahari relatif rendah di horizon, karena cahaya Matahari harus menempuh lintasan yang lebih panjang di atmosfer. Kombinasi antara tingginya konsentrasi aerosol asap, ketebalan lapisan asap, posisi Matahari, kelembapan udara, serta karakteristik partikelnya dapat menyebabkan langit terlihat merah hingga oranye secara lebih mencolok.
BMKG menegaskan bahwa fenomena langit merah ini bukan pertanda cuaca tertentu. Kejadian ini dikenal sebagai fenomena optik atmosfer yang disebabkan oleh interaksi cahaya matahari dengan aerosol atau partikel asap di atmosfer. “Jadi, fenomena tersebut bukan merupakan pertanda munculnya fenomena cuaca tertentu, melainkan dapat dijelaskan secara ilmiah sebagai fenomena optik atmosfer yang pada kejadian ini sangat mungkin diperkuat oleh tingginya konsentrasi partikel asap akibat karhutla,” ujar Ida.
Pentingnya Pemantauan Kualitas Udara
Meskipun langit tampak merah atau oranye, BMKG mengingatkan bahwa warna tersebut tidak dapat digunakan sebagai alat ukur langsung tingkat pencemaran udara atau konsentrasi PM2,5. Penentuan kualitas udara tetap harus mengacu pada hasil pengukuran menggunakan instrumen pemantauan.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi mengenai kualitas udara, sebaran asap, dan kondisi cuaca. Ketika konsentrasi PM2,5 berada pada kategori berbahaya, masyarakat disarankan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan membatasi masuknya udara luar yang tercemar ke dalam ruangan.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan, perlu mendapatkan perhatian lebih dan mengikuti anjuran dari instansi kesehatan terkait.