Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) telah memulai uji coba penerapan model penyajian program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara prasmanan di lingkungan sekolah. Model inovatif ini terinspirasi dari sistem penyediaan makan sekolah di Jepang yang dikenal sebagai kyushoku.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menjelaskan bahwa uji coba ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas model prasmanan dalam menjaga kualitas dan kesegaran makanan. Hingga 5 Oktober lalu, BGN telah berhasil menerapkan model prasmanan di lebih dari 60 dapur sekolah.
“Jadi makanan dibawa hangat-hangat ke kelas, kemudian disajikan di kelas,” ujar Sudaryono dalam laman BGN dikutip Rabu (7/1/2026).
Keunggulan MBG Model Prasmanan
Menurut Sudaryono, model penyajian prasmanan menawarkan beberapa keunggulan signifikan. Salah satunya adalah makanan yang disajikan tetap dalam kondisi hangat dan segar karena waktu tunggu antara proses memasak hingga disantap dapat dipersingkat secara drastis.
“Kita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu. Sehingga mengurangi risiko kerusakan makanan yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan,” jelasnya.
Sudaryono juga menilai sistem prasmanan berpotensi besar dalam mengurangi jumlah makanan yang terbuang. Dengan sistem ini, siswa dapat mengambil porsi makanan sesuai dengan kebutuhan mereka. Sisa makanan yang masih tersedia pun dapat dinikmati oleh siswa lain yang mungkin membutuhkan tambahan.
“Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa bisa nambah. Dan waste-nya lebih sedikit karena prasmanan,” katanya.
Minta Siswa Dilibatkan
Pelaksanaan model prasmanan ini menuntut kesiapan yang memadai, baik dari pihak dapur maupun sekolah. Oleh karena itu, Sudaryono mengemukakan keinginannya agar para siswa dapat turut dilibatkan dalam proses pelayanan MBG.
Dengan konsep keterlibatan siswa, sistem prasmanan ini diharapkan akan menyerupai penyelenggaraan di Jepang, yang secara efektif mengintegrasikan aspek konsumsi pangan dengan pendidikan karakter dan kemandirian.
“Kalau prasmanan ini memang, kalau sudah terbiasa akan bagus, sama seperti di negara lain. Cuman memang perlu ada training yang cukup,” ungkapnya.
Komentar