Kabupaten Agam – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Fraksi Gerindra, Andre Rosiade, mengusulkan pembangunan jalan bypass sepanjang 6,5 kilometer dari kawasan exit tol Pasar Amor menuju Simpang Taluak, Nagari Taluak Ampek Suku, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam. Pembangunan ini bertujuan agar masyarakat dapat menikmati konektivitas jalan tol Sicincin-Bukittinggi tanpa harus menggunakan jalan tol.
Menurut Andre, bypass ini penting untuk mengalihkan arus kendaraan dari exit tol agar tidak seluruhnya diarahkan ke kawasan Padang Luar yang kerap mengalami kepadatan lalu lintas. “Kalau tol kita buang atau keluar langsung ke jalan nasional ke arah Padang Luar, itu bisa macet. Kita butuh bypass. Bypass itu sudah dibuat trasenya sejak dulu. Ini yang mau kita pergunakan dari Pasar Amor sampai Simpang Taluak, bukan ke Padang Luar,” ungkap Andre dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026).
Gagasan tersebut disampaikan Andre saat sosialisasi yang digagasnya bersama Direktur Utama PT Hutama Karya Koentjoro, perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan Pemerintah Kabupaten Agam di Kantor Wali Nagari Sariak, Kecamatan Sungai Pua. Bypass ini diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai akses keluar-masuk tol, tetapi juga sebagai jalan alternatif bagi masyarakat yang tidak menggunakan tol.
Dirut Hutama Karya, Koentjoro, membenarkan rencana tersebut. Ia menjelaskan konsepnya adalah menempatkan exit tol di kawasan Pasar Amor, dengan akses sekitar 500-600 meter yang terhubung ke bypass sepanjang 6,5 kilometer menuju Simpang Taluak. “Dari Pasar Rabaa ke Simpang Tanuah, itu ada bypass sepanjang 6,5 kilometer. Trasenya sudah ada dan masyarakat bisa memanfaatkan jalan bypass ini,” ujar Koentjoro.
Koentjoro menambahkan bahwa trase yang sudah ada menjadi keuntungan, meskipun memerlukan peningkatan kapasitas dan kualitas jalan. Bypass akan dibangun dengan standar yang memadai, dilengkapi putaran dan drainase yang baik, mengingat banyak lahan pertanian di kanan-kiri jalur.
Ketua KAN Batu Palano, Editiawarman, menyatakan masyarakat pada prinsipnya menerima pembangunan bypass karena potensi manfaat ekonominya. Namun, ia meminta pembangunan memperhatikan tanah ulayat dan lahan produktif masyarakat Batu Palano. Ia juga mengingatkan bahwa kawasan bekas Pasar Amor memiliki nilai penting bagi nagari dan sedang diupayakan pengembaliannya kepada anak nagari, bahkan dengan rencana pengembangan lokasi pendidikan tinggi.
“Kalau masalah exit tol, kami juga sangat setuju. Tapi kami sangat mengharapkan sosialisasinya betul-betul sampai ke Nagari Batu Palano,” katanya.
Wali Nagari Sariak, Ismet Dianto, juga meminta kepastian trase bypass dan akses tol melalui pendataan lapangan. Ia menekankan pentingnya kepastian trase agar Pemerintah Nagari dapat menjelaskannya kepada masyarakat yang berpotensi terdampak.
Kepala Dinas Perkimtan Sumbar, Ahdiyarsyah, menjelaskan bahwa pemerintah akan melakukan pendataan awal di lapangan. Perbedaan rancangan sebelumnya dapat terjadi karena perbedaan standar teknis antara perencanaan jalan provinsi dan jalan nasional. Trase akan diverifikasi kembali bersama tim teknis, pemerintah nagari, dan masyarakat.
Wakil Bupati Agam, M Iqbal, menyebut rencana bypass ini sebagai bagian penting dari konektivitas baru yang dibangun pemerintah pusat. Ia berharap pembangunan tidak hanya memperlancar arus kendaraan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat Agam yang ekonominya bergantung pada sektor pertanian.
Andre Rosiade menilai konektivitas baru ini akan membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi Agam dan Sumatera Barat. Ia meyakini akses jalan yang lebih baik akan mempercepat distribusi hasil pertanian, meningkatkan pergerakan wisatawan, dan membuka hubungan ekonomi dengan daerah lain, termasuk Riau. “Kalau tol sambung sampai Riau, orang Riau bisa datang ke kampung kita membawa banyak uang setiap minggu dan setiap liburan. Produk pertanian Agam juga bisa dikirim lebih cepat ke Riau. Ini dimaksud supaya kampung kita yang untung,” ujar Andre.
Ia menegaskan, pembangunan bypass dan konektivitas tol harus diarahkan untuk memperkuat perekonomian masyarakat sekaligus menjaga keterhubungan antar kampung dan nagari. Andre meminta seluruh pihak melanjutkan dialog untuk menemukan formula yang dapat diterima dan dilaksanakan secara teknis.
Dalam paparan Hutama Karya, ruas Tol Bukittinggi-Sicincin memiliki panjang sekitar 39,6 kilometer dengan kecepatan desain 80 kilometer per jam. Berdasarkan kajian CORE Indonesia 2024, pembangunan ruas ini diproyeksikan memberikan penghematan jarak tempuh 8,88 persen dan penghematan waktu tempuh hingga 55,91 persen.