Pemerintah Kota Surabaya meluncurkan program Pemilahan Sampah Anorganik dan Organik (Pisang Danor) sebagai upaya strategis untuk mengurangi volume sampah dari sumbernya. Program ini secara khusus menyasar rumah tangga agar aktif memilah dan mengolah sampah sebelum diserahkan ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah, terutama sampah organik yang merupakan kontributor terbesar. “Kalau kita ini tidak cinta kepada lingkungan, maka sampah itu tidak akan pernah selesai. Dan sampah yang paling banyak (dihasilkan) adalah sampah organik,” ujar Eri dalam keterangan tertulisnya pada Jumat (21/8/2026).
Peluncuran program Pisang Danor yang diinisiasi oleh Tim Penggerak PKK Kota Surabaya berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) ini, dilaksanakan di Graha YKP, Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, Surabaya, pada Rabu (5/8) lalu.
Eri menilai bahwa pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga dapat secara signifikan mengurangi beban pengangkutan dan menekan biaya pengelolaan sampah di Kota Pahlawan. “Sampah organik ini kalau itu bisa dikelola sampai rumah, maka sebenarnya biaya sampah itu berkurang,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa efisiensi biaya sangat krusial mengingat Pemkot Surabaya harus membayar tipping fee di TPA Benowo yang mencapai sekitar Rp217.000 per ton. Dengan mengajak masyarakat lebih disiplin dalam memilah sampah, anggaran yang sebelumnya terpakai untuk pengelolaan sampah dapat dialihkan untuk program prioritas lainnya, seperti pendidikan gratis.
“Kenapa saya ingin mengajak masyarakat mengolah sampah, karena daripada uang kami (pemkot) dibuat bayar sampah, mending uangnya dibuat untuk sekolah gratis mulai SD-SMA sampai kuliah. Itu lebih bagus,” tutur Eri.
Melalui Lomba Pisang Danor, Pemkot Surabaya berupaya membangun kebiasaan memilah sampah secara konsisten, mulai dari tingkat keluarga hingga lingkungan RT dan RW. “Nah, persoalan sampah harusnya juga bisa dimulai dari rumah tangga,” ungkapnya.
Program Pisang Danor ini menjadi bagian dari rangkaian inisiatif yang akan dilanjutkan dengan kompetisi kebersihan lingkungan dalam skala yang lebih luas, yaitu Lomba Kampung Pancasila. “Jadi setelah Pisang Danor, nanti dilanjutkan dengan lomba Kampung Pancasila,” kata Eri.
Ia berharap program ini mampu mengubah kebiasaan masyarakat sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. “Semoga lomba ini bisa mengubah paradigma kita, menjadikan kita lebih cinta lingkungan,” harapnya.
Fokus pada Sampah Organik
Ketua TP PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, menjelaskan bahwa program Pisang Danor secara spesifik berfokus pada pengelolaan sampah organik rumah tangga. Sementara itu, pemilahan sampah anorganik dinilai telah berkembang dengan baik melalui keberadaan bank sampah di berbagai permukiman.
“Sebenarnya Surabaya sudah luar biasa dalam melakukan pemilahan sampah anorganik. Karena itu kami lebih fokus untuk pemilahan sampah organik,” ujar Rini.
Ia menekankan bahwa rumah tangga merupakan titik awal yang sangat penting karena sebagian besar aktivitas terkait sisa bahan pangan bermula dari keluarga. “Lingkup yang paling kecil yaitu keluarga (rumah tangga), sehingga pembiasaan ini kita mulai dari rumah,” jelasnya.
Rini mendorong kolaborasi antara camat, lurah, DLH, hingga Satgas Kampung Pancasila untuk memperluas gerakan pengelolaan sampah organik. “Insyaallah tujuan kita semua sama, bagaimana pengolahan sampah organik ini bisa secara masif dan tentunya bisa bermanfaat untuk kita semua,” tuturnya.
Target Pengurangan Sampah
Kepala DLH Kota Surabaya, M Fikser, memaparkan bahwa program Pisang Danor dirancang untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah dan menjadi tahap awal menuju Lomba Kampung Pancasila. “Ini menjadi suatu program lomba yang kemudian mendorong partisipasi masyarakat untuk melakukan pemilahan. Seperti yang disampaikan Pak Wali Kota, bahwa ini pemanasan nanti puncaknya adalah Lomba Kampung Pancasila,” kata Fikser.
Para peserta lomba Pisang Danor merupakan perwakilan enam RW terbaik dari setiap kecamatan yang telah melalui proses seleksi di tingkat kelurahan. “Di setiap kecamatan itu ada (perwakilan) enam RW. Jadi nanti akan diseleksi oleh kecamatan dan kelurahan, kemudian enam yang terbaik diambil mewakili kecamatan,” paparnya.
Fikser menekankan pentingnya menjaga agar sampah organik dan anorganik tidak tercampur kembali setelah dipilah. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dapat dijual. “Yang organik diolah menjadi komposter atau diolah menjadi hal lain. Sedangkan yang anorganik itu yang kemudian mempunyai nilai ekonomis yang dijual secara langsung,” tegasnya.
Ia berharap pengurangan sampah dari sumbernya dapat menekan biaya pengelolaan sampah di TPA Benowo, sehingga dana yang dihemat dapat digunakan untuk mendukung program pemerintah di sektor lain, seperti pendidikan atau kesehatan. “Dengan demikian nilai tipping fee atau pembayaran kita terhadap pengelolaan di TPA Benowo bisa berkurang. Dan dana itu bisa dialihkan untuk program seperti yang disampaikan Pak Wali Kota yaitu untuk pendidikan atau kesehatan,” tuturnya.
Pemkot Surabaya menargetkan pemilahan sampah dari rumah tangga mencapai 40 persen untuk mendukung target pengurangan sampah secara nasional. “Makanya target Pak Wali Kota kita harus melakukan pemilahan 40 persen (sampah) dari rumah tangga,” imbuhnya.
Saat ini, produksi sampah di Surabaya mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Sekitar 200 ton telah berhasil diintervensi melalui TPS 3R, bank sampah, dan pemilahan oleh masyarakat, sementara 1.600 ton dikirim ke TPA Benowo. Sampah yang dikirim ke TPA Benowo ini dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik melalui fasilitas Gasification Power Plant (9 MW) dan Landfill Gas Power Plant (2 MW). “Dengan pemilahan sampah ini bisa mengurangi pembayaran (tipping fee). Maka kita juga mendorong partisipasi warga untuk kita sama-sama menjaga lingkungan,” pungkasnya.