GARUT – Asep Supriatna, seorang abdi negara berusia 21 tahun di Lapas Kelas IIA Garut, telah menyaksikan langsung evolusi sistem pemasyarakatan di Indonesia. Memulai kariernya sebagai perawat narapidana pada tahun 2005, Asep kini menjabat sebagai Kepala Seksi Kegiatan Kerja, memegang peran krusial dalam reformasi pembinaan di lembaga pemasyarakatan.
Perjalanan Asep dimulai dengan fokus utama pada keamanan dan pembinaan kepribadian. “Yang saya tahu Pemasyarakatan saat itu hanya berfokusnya pada pengamanan warga binaan saja. Meskipun sisi pembinaannya ada, tapi lebih menonjol itu di bidang pembinaan kepribadiannya. Kalau untuk kemandiriannya seperti sekarang tidak terlalu menonjol,” ungkap Asep.
Titik balik signifikan mulai terasa sekitar tahun 2010, terutama dalam pelayanan kesehatan. Kerjasama antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Hukum dan HAM, serta Kementerian Sosial membawa perbaikan drastis. “Sebelum 2010 kekurangan SDM, kekurangan sarana prasarana sehingga pelayanan kesehatan di lembaga itu menurut saya sangat kurang,” kenangnya. Dengan tersedianya perawat definitif dan kemudahan akses ke rumah sakit, kualitas layanan kesehatan bagi narapidana meningkat pesat, bahkan administrasi pembiayaan menjadi gratis bagi pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan.
Transformasi ini semakin terasa ketika Lapas Garut memiliki dokter sendiri pada tahun 2022. Selama kurang lebih 15 tahun, Asep mendedikasikan dirinya sebagai perawat sebelum akhirnya mendapatkan promosi jabatan.
Perubahan Fokus Pembinaan dan Kegiatan Kerja
Perubahan kebijakan, termasuk program Asta Cita Presiden dan 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, menempatkan kegiatan kerja, ketahanan pangan, dan UMKM sebagai prioritas. Hal ini sangat dirasakan Asep, mengingat masa lalu di mana kegiatan kerja warga binaan masih terbatas pada pelatihan.
Kini, Lapas Garut telah berkembang pesat. Sejak tahun 2019, kerjasama dengan pihak swasta mulai membuka berbagai peluang. Salah satu contohnya adalah peternakan ayam pedaging yang sempat menyerap ribuan ekor ayam. “Dulu kandang ayam hanya menyerap tenaga kerja napi nol koma sekian persen karena tenaga kerja kita hanya tiga orang, paling banyak pun lima orang. Sedangkan jumlah napi sekitar 500 orang,” jelas Asep.
Perkembangan terkini menunjukkan lebih dari 30 persen warga binaan terserap dalam kegiatan kerja yang kini berjumlah 24 jenis. Mulai dari peternakan, kerajinan tangan, hingga produksi coir sheet berbahan sabut kelapa, hampir seluruh kegiatan kemandirian kini memberikan kontribusi ekonomi bagi narapidana.
Pendekatan Baru: Pemetaan Minat dan Bakat
Untuk mendorong partisipasi yang lebih luas, Asep dan Kalapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, menerapkan strategi baru. Pemetaan minat dan bakat dilakukan sejak hari pertama narapidana masuk. “Strategi saya bersama Pak Kalapas untuk membuat napi tertarik di bimbingan kerja dengan cara hari pertama dia masuk, kita sudah screening minat dan bakat,” ujar Asep.
Bagi narapidana yang belum memiliki keterampilan, mereka diarahkan pada pekerjaan yang relatif mudah dipelajari dan mampu menampung banyak orang. Pendekatan ini juga bertujuan untuk mengenalkan bahwa kegiatan kerja bukan sekadar pengisi waktu, melainkan sumber penghasilan ekonomi. Seluruh kegiatan kemandirian memberikan premi, bahkan ada narapidana yang menggunakan penghasilannya untuk membantu biaya perjalanan keluarga.
Peran Petugas: Dari Penjaga Menjadi Figur Keluarga
Perubahan fundamental juga terjadi pada cara petugas berinteraksi dengan narapidana. “Kalau dulu awal-awal saya menjadi pegawai lapas itu memposisikan petugas lapas ya sebagai petugas,” kata Asep. “Kalau sekarang yang saya rasakan kita sebagai orang tua warga binaan, kadang menempatkan diri sebagai saudara mereka dan bahkan sebagai teman mereka.”
Asep menceritakan kisah Jefri, seorang narapidana yang awalnya sering mengeluh sakit demi mencari perhatian. Melalui percakapan mendalam, Asep mengetahui bahwa Jefri sebenarnya mencari ketenangan. Ia kemudian mengarahkan Jefri untuk belajar agama di masjid, yang ternyata memberikan dampak positif dan mengurangi frekuensi keluhan fisiknya. “Karena dia mendapatkan ketenangan di masjid ternyata. Sebetulnya keluhannya di psikisnya dia,” ujar Asep.
Tantangan Stigma dan Harapan untuk Masa Depan
Meskipun banyak kemajuan, Asep menyoroti tantangan terbesar yang dihadapi mantan narapidana: penerimaan masyarakat. Stigma negatif masih kuat, seringkali membuat mereka dicurigai bahkan ketika tidak bersalah. “Kalau boleh saya bilang cara berpikir masyarakat itu masih menganggap warga binaan itu orang jahat, dan menstigma mereka masih jelek,” lirihnya.
Ia mengungkapkan adanya cerita residivis yang kembali ke lapas karena merasa lebih diterima di sana. “Jawaban mereka, ya mereka lebih nyaman dengan yang menerima, bukan sifatnya menceramahi. Harapan saya itu ada wadah kerja untuk mereka setelah pulang dari sini,” tuturnya.
Asep berharap banyak pihak, termasuk pemerintah daerah, instansi pendidikan, dan organisasi sosial, dapat lebih terlibat dalam pembinaan di lapas. Ia menekankan bahwa narapidana tetap memiliki hak atas pendidikan, kesehatan, dan keterampilan. “Karena kita juga memerlukan dukungan dari pihak eksternal, juga pihak internal. Karena warga binaan semuanya punya hak yang sama dengan yang tidak dipenjara: hak pendidikan, kesehatan dan keterampilannya,” tegas Asep.
Ia meyakini bahwa akar permasalahan yang membawa seseorang ke penjara seringkali lebih kompleks, melibatkan pondasi agama, lingkungan sosial, dan ekonomi yang kurang memadai. “Saya selalu mengatakan bukan narkoba atau pencurian yang membuat mereka masuk ke sini, tapi karena pondasi agamanya kurang. Selain agama, yang mengantarkan mereka ke sini adalah faktor sosialnya tidak bagus dan ekonominya kurang,” pungkasnya.