Jakarta – Hasil terbaru Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan penurunan capaian akademik yang mengkhawatirkan bagi siswa berusia 15 tahun di Amerika Serikat. Skor membaca siswa AS tercatat 490 poin, turun 14 poin dari tahun 2022, menandai angka terendah sejak 2009. Demikian pula, skor matematika anjlok menjadi 463 poin, terendah sejak 2006. Sementara itu, capaian di bidang sains dilaporkan relatif stabil.
PISA 2025 melibatkan sekitar 760.000 siswa dari 91 negara dan perekonomian untuk mengukur kemampuan mereka dalam sains, membaca, matematika, dan pemecahan masalah berbasis komputasi. Di AS, sebanyak 4.625 siswa dari 144 sekolah berpartisipasi, mewakili sekitar 85 persen populasi siswa berusia 15 tahun.
Penurunan Kemampuan Membaca dan Kesenjangan Lebar
Penurunan skor membaca menjadi sorotan utama. Hanya 74 persen siswa AS yang mencapai tingkat kecakapan dasar membaca, di mana mereka diharapkan mampu menemukan gagasan utama, informasi eksplisit, serta merefleksikan tujuan dan bentuk teks. Namun, PISA juga menyoroti kesenjangan capaian yang lebar, dengan 25,7 persen siswa berada di kategori berprestasi rendah dan hanya 13,3 persen di kelompok berprestasi tinggi.
Profesor pendidikan literasi di New York University, Michael Kieffer, menyatakan bahwa kesenjangan skor membaca di AS merupakan salah satu yang terlebar di antara negara peserta PISA. “Jika melihat 90 negara yang berpartisipasi, tidak ada satu pun negara yang memiliki ketimpangan skor membaca secara signifikan lebih lebar dibandingkan AS,” kata Kieffer, mengindikasikan kurangnya dukungan pendidikan yang memadai bagi sebagian siswa.
Skor Matematika di Titik Terendah
Selain membaca, skor matematika siswa AS juga mengalami penurunan signifikan, mencapai 463 poin, terendah sejak 2006. Sekitar 65 persen siswa AS mampu mencapai tingkat kecakapan dasar matematika, yang mengharuskan mereka memahami representasi matematis dalam situasi sederhana tanpa instruksi langsung, seperti membandingkan jarak atau mengonversi mata uang. Meskipun turun, skor matematika AS masih berada di sekitar rata-rata OECD, begitu pula dengan capaian membaca dan sains.
Perubahan Kebijakan Pendidikan dan Potensi Dampak
Penurunan capaian akademik ini terjadi di tengah perubahan pola pembelajaran di sekolah-sekolah AS. Beberapa pakar mengaitkannya dengan peningkatan penggunaan teks pendek, tekanan tes terstandar, keterbatasan anggaran, dan waktu pembelajaran di kelas. Namun, hasil PISA sendiri tidak dapat menentukan satu penyebab tunggal.
Sekretaris Jenderal OECD, Mathias Cormann, menekankan perlunya upaya mendesak untuk membalikkan tren penurunan ini. Ia menyebutkan bahwa sistem pendidikan berkinerja tinggi cenderung fokus pada pendalaman materi, investasi pada guru, pelibatan orang tua, dan dukungan terarah bagi siswa serta sekolah yang membutuhkan.
Di sisi lain, pemerintahan Presiden Donald Trump telah mengusulkan perubahan besar dalam kebijakan pendidikan. Pada Maret 2025, Menteri Pendidikan Linda McMahon diminta memulai proses pembubaran Departemen Pendidikan AS, dengan argumen bahwa belanja pendidikan federal yang besar belum terbukti meningkatkan skor tes terstandar. Gedung Putih berpendapat bahwa tanggung jawab kurikulum dan standar akademik sebaiknya berada di tangan negara bagian dan pemerintah daerah.
McMahon menyatakan, “Birokrasi pendidikan federal kita yang seragam untuk semua justru telah merugikan anak-anak kita dan menghambat masa depan kita.” Ia juga mendukung konsep “school choice”, yang memberikan lebih banyak pilihan pendidikan bagi orang tua, termasuk melalui sekolah charter, homeschooling, dan sekolah swasta. “Untuk melewatinya, kita harus melakukan perubahan mendasar yang menghentikan perlindungan terhadap status quo yang gagal dan sebagai gantinya membangun sistem yang memberdayakan para pemimpin negara bagian serta membuka ruang bagi pilihan pembelajaran yang inovatif melalui school choice,” tegas McMahon.
Komentar