Jakarta – Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 kembali dirilis, memicu perdebatan tentang kemampuan anak Indonesia. Namun, di tengah kebiasaan membandingkan peringkat, muncul pertanyaan fundamental: apakah kita sudah benar-benar memahami apa yang diukur dalam asesmen ini dan apa arti kecerdasan itu sendiri?
Dalam PISA 2025, Indonesia mencatat skor rata-rata 389 dalam sains, 364 dalam matematika, dan 365 dalam membaca. Angka ini masih tertinggal jauh di bawah rata-rata OECD yang masing-masing mencapai 482, 463, dan 461. Hanya sebagian kecil peserta didik Indonesia yang mencapai tingkat kompetensi yang diharapkan, yaitu 37 persen dalam sains, 17 persen dalam matematika, dan 27 persen dalam membaca.
Hasil ini tentu menjadi refleksi penting. Kemampuan dasar membaca, matematika, dan sains memang perlu terus ditingkatkan. Namun, menyimpulkan bahwa anak-anak Indonesia tidak cerdas berdasarkan angka PISA adalah kekeliruan. PISA mengukur aspek kemampuan tertentu, bukan keseluruhan spektrum kecerdasan manusia. Penting untuk memahami bahwa kecerdasan manusia jauh lebih luas daripada sekadar skor dalam sebuah tes.
Konsep kecerdasan, seperti yang dikemukakan oleh Ray Kurzweil, tidak hanya terbatas pada kemampuan menjawab soal dengan benar. Kecerdasan juga mencakup kemampuan mengenali pola, melihat hubungan antarfenomena, belajar dari pengalaman, dan mengaplikasikan pengetahuan dalam berbagai situasi. Evolusi kehidupan itu sendiri, yang menghasilkan keragaman organisme kompleks dari bentuk sederhana, dapat dipandang sebagai bentuk kecerdasan.
Menurut Kurzweil dalam teorinya, Pattern Recognition Theory of Mind, otak manusia bekerja melalui hierarki pengenalan pola. Kita belajar dari pengalaman, membangun koneksi antar pola, dan menggunakan pemahaman ini untuk menavigasi serta memprediksi situasi baru. Kemampuan ini esensial dalam proses belajar dan adaptasi.
OECD sendiri menegaskan bahwa PISA tidak hanya menguji pengetahuan yang dimiliki siswa, tetapi bagaimana mereka menerapkan pengetahuan dan keterampilan tersebut untuk memecahkan masalah nyata. Oleh karena itu, rendahnya capaian PISA seharusnya lebih ditujukan sebagai pertanyaan mengenai efektivitas proses pendidikan, bukan semata-mata pada kapasitas intrinsik siswa.
Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah apa yang terjadi dalam proses pembelajaran matematika. Apakah siswa memahami pola di balik angka? Apakah mereka dapat menghubungkan konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari? Apakah metode pengajaran memberikan ruang bagi mereka untuk menemukan hubungan, mencoba strategi, dan belajar dari kesalahan?
Hal serupa berlaku untuk literasi membaca. Membaca bukan sekadar kemampuan melafalkan kata, melainkan proses menemukan makna, menghubungkan informasi, membedakan fakta dari opini, dan menarik kesimpulan. Kemampuan membaca yang tinggi memungkinkan seseorang memahami teks kompleks, menangani konsep abstrak, dan menginterpretasikan makna tersirat.
Meskipun skor PISA 2025 menunjukkan sedikit perbaikan dalam sains dan membaca dibandingkan PISA 2022, perubahannya tidak signifikan secara statistik. Ini berarti klaim peningkatan besar belum dapat dibenarkan, namun data tersebut juga menolak narasi sederhana tentang kemunduran pendidikan.
Menariknya, PISA 2025 juga menyoroti adanya kelompok siswa dari latar belakang sosial-ekonomi kurang beruntung yang mampu mencapai performa tinggi. Sekitar 15 persen siswa dari kelompok ini berhasil masuk seperempat teratas performa sains, menunjukkan adanya ketahanan akademik (resilience). Ini membuktikan bahwa latar belakang bukanlah takdir mutlak, dan banyak siswa mampu mengatasi keterbatasan lingkungan.
Jika kita mengadopsi gagasan Kurzweil tentang pengenalan pola, pendidikan di Indonesia perlu bertransformasi. Siswa tidak hanya perlu dilatih menghafal rumus, tetapi diajak memahami pola yang mendasarinya. Dalam membaca, mereka perlu diajak menemukan hubungan antar gagasan, bukan sekadar menghafal isi bacaan. Dalam sains, pemahaman sebab-akibat, hipotesis, dan pengujian kesimpulan harus diperkuat.
Seorang siswa yang hafal seratus rumus belum tentu memahami matematika. Seratus buku yang dibaca belum tentu menjamin literasi yang kuat. Banyaknya fakta ilmiah yang dihafal pun belum tentu berarti berpikir ilmiah. Kemampuan krusial adalah bagaimana pengetahuan tersebut digunakan saat menghadapi persoalan baru.
Evolusi kehidupan terjadi melalui perubahan, variasi, dan adaptasi. Manusia, sebagai bagian dari proses ini, memiliki keunikan dalam kemampuan belajar sadar, mewariskan pengetahuan, dan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan. Anak belajar hukum fisika saat memahami air mengalir, menguasai bahasa melalui pengenalan pola, dan mengembangkan penalaran matematis melalui hubungan angka.
Belajar adalah proses menemukan keteraturan dalam keragaman pengalaman. G agasan Kurzweil tentang pengenalan pola dapat menjadi inspirasi untuk membaca ulang persoalan PISA. Mengejar skor PISA semata dapat menggoda untuk mengajarkan siswa cara menjawab soal ujian. Padahal, fokus seharusnya adalah membangun kemampuan yang membuat mereka siap menghadapi berbagai tantangan, termasuk yang belum pernah muncul.
PISA idealnya berfungsi sebagai alat diagnosis. Jika literasi membaca rendah, perbaiki budaya literasi dan kualitas pembelajaran. Jika matematika lemah, perkuat penalaran matematis, bukan sekadar latihan soal. Jika sains lemah, hidupkan kembali pembelajaran berbasis pengamatan, eksperimen, dan argumentasi.
Lebih penting lagi, kita harus meyakini bahwa kemampuan anak akan berkembang jika lingkungan belajarnya mendukung. Ini adalah tanggung jawab kolektif negara, sekolah, guru, keluarga, dan masyarakat. PISA 2025 menyampaikan pesan keras tentang kesenjangan kemampuan dasar Indonesia, namun pesan ini seharusnya tidak berujung pada rasa malu. Tugas pendidikan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap kecerdasan anak berkembang.
Pertanyaan yang lebih relevan untuk PISA 2025 bukanlah “Seberapa pintar anak-anak Indonesia?”, melainkan “Sudah seberapa baik kita menyediakan kondisi agar kecerdasan anak-anak Indonesia dapat berkembang?”
Komentar