PT Kereta Api Indonesia (KAI) berencana memangkas jarak waktu kedatangan atau headway pada rute KRL Rangkas Bitung, yang kerap disebut sebagai Green Line. Headway yang semula berkisar antara 10 hingga 15 menit akan dipersingkat menjadi hanya 4 hingga 5 menit. Rencana ini disambut gembira oleh para penumpang yang akrab disapa ‘Anker’.
Auliya (26), seorang Anker, menyatakan kebahagiaannya atas rencana tersebut. Ia berharap pemangkasan headway ini dapat mengurangi penumpukan penumpang dan desak-desakan yang sering terjadi saat menunggu kedatangan kereta. Menurutnya, frekuensi kedatangan kereta yang lebih banyak akan memberikan lebih banyak pilihan bagi penumpang dan mengurangi fokus pada satu kereta tertentu.
“Biasanya karena nunggu tiap kereta sampai 10 menit lebih, itu penumpang udah numpuk lagi dan desak-desakan banget. Apalagi di Rawa Buntu sama Sudimara, Allahuakbar banget ramainya, kalau makin sering keretanya dan gerbongnya makin banyak, pasti dempet-dempetannya juga berkurang,” tutur Auliya di kawasan Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026).
Auliya mengaku seringkali memilih untuk mengulur waktu kepulangannya demi menghindari kepadatan di Stasiun Tanah Abang. Ia berharap rencana pemangkasan headway ini dapat segera terealisasi untuk memberikan kenyamanan lebih.
Pengalaman serupa diungkapkan oleh Hidayat (29). Ia menggambarkan perjalanan menggunakan KRL Green Line pada jam berangkat kerja sebagai sebuah ‘uji nyali’ dan ‘latihan fisik’. Kereta dari arah Rangkas Bitung selalu dipadati penumpang.
“Pengalaman selama menggunakan KRL di jalur green line itu pernah dari Stasiun Rawa Buntu ke Palmerah, kalau kita sudah ketinggalan kereta dan pintunya baru ditutup memang bisa nunggu sampai 15 menit,” kata Hidayat. Ia menambahkan, “Apalagi pas di jam sibuk 6-8 itu udah kayak uji nyali dan latihan fisik. Dan lebih sial lagi kalau kereta berikutnya yang datang dari arah Rangkas Bitung udah pasti penuh dan harus sudah siap berdesakan.”
Hidayat menyambut positif rencana pemangkasan waktu headway ini, menilai bahwa hal tersebut dapat mempercepat perjalanannya menuju tempat kerja. “Kalau nanti dipangkas waktu tunggu maksimal 5 menit, ini sih bagus ya, bisa mempercepat kita juga ke lokasi kerja, kalau misalnya kereta sudah penuh sesak, bisa milih nunggu aja dulu kan ga sampai 5 menit lagi kereta berikutnya akan datang. Bisa buat tenang sih kayaknya,” ujarnya.
Syahrul (30), Anker lainnya, juga menyatakan persetujuannya terhadap rencana pemangkasan headway. Ia mengaku lelah dengan kondisi berdesakan di kereta setiap hari.
“Saya setuju banget dengan rencana ini. Pemangkasan waktu dan penambahan gerbong itu bakal mengurangi tumpukan dan kepadetan di dalam kereta. Jujur aja, sebagai pengguna jalur green line, kadang capek banget kalau harus desak-desakan di tiap pergi sampai pulang kerja,” kata Syahrul. Ia menambahkan, “Harapannya kalau rencana ini terlaksana akan kasih kenyamanan untuk para Anker, terutama di jalur green line.”
Rencana pemangkasan headway ini merupakan bagian dari upaya KAI untuk meningkatkan sarana dan prasarana dalam menyikapi jumlah penumpang KRL Jabodetabek yang mencapai 1,1 juta setiap harinya. Hal ini disampaikan oleh Dirut KAI, Bobby Rasyidin, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR pada Rabu (23/9/2026).
“Yang di arah ke Rangkas itu kita akan tambah juga, akan kita tingkatkan juga persinyalannya sehingga yang sekarang itu 10-15 menit headway-nya itu akan kita persingkat menjadi 4 atau 5 menit headway dari kereta yang tadinya sudah SF12,” kata Bobby.
Bobby menambahkan bahwa untuk Green Line Rangkas Bitung, KAI telah memulai pemasangan 5 gardu traksi. Targetnya, pada semester 1 tahun 2027, seluruh jalur Rangkas Bitung akan dilayani oleh rangkaian kereta 12 gerbong (SF12).
“Prasarana quick win-nya itu adalah tahun 2026 untuk jalur green line yang Rangkas Bitung itu kita mulai memasang 5 gardu traksi di tahun ini dan uprating 9 gardu lainnya sehingga nanti semester 1 2027 jalur green line ini itu akan bisa dilewati oleh SF12 semua,” ujarnya.