Munculnya Daratan Baru di Sekitar Anak Krakatau, Kilas Balik Proses Kelahiran Gunung Api

JAKARTA – Sebuah daratan baru dengan luas sekitar 32,8 hektare telah muncul di kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Fenomena ini terjadi setelah serangkaian erupsi yang berlangsung beberapa waktu lalu.

Kemunculan daratan baru ini menambah catatan sejarah vulkanik di wilayah tersebut, mengingatkan kembali pada proses panjang pembentukan Gunung Anak Krakatau yang lahir dari letusan dahsyat Gunung Krakatau di masa lalu.

Proses Pembentukan Gunung Krakatau

Menurut kajian dari Badan Geologi, sejarah terbentuknya Gunung Anak Krakatau bermula dari letusan besar Gunung Krakatau yang diperkirakan terjadi pada abad ke-5 Masehi. Letusan tersebut membentuk sebuah kaldera raksasa atau cekungan di puncak gunung.

Dari pembentukan kaldera ini, menyisakan tiga pulau kecil: Verlatern, Lang, dan Rakata. Di lokasi Pulau Rakata, kemudian muncul kerucut gunung api baru yang dinamai Gunung Rakata, tersusun dari batuan basaltik.

Selanjutnya, di tengah cekungan kaldera, tumbuh dua kerucut gunung api baru, yaitu Perbuwatan dan Danan. Kerucut-kerucut ini terus membesar hingga akhirnya menyatu dengan Rakata, membentuk Gunung Krakatau yang dikenal.

Pada tahun 1680, Gunung Krakatau dilaporkan mengalami erupsi dengan komposisi andesitik.

Erupsi Dahsyat 1883

Setelah mengalami masa tenang selama dua abad, Gunung Krakatau kembali mengalami erupsi besar pada tanggal 20 Mei 1883. Puncak erupsi terjadi pada 26 dan 28 Agustus 1883, menjadikannya letusan paling fenomenal karena kedahsyatannya. Diperkirakan, erupsi ini menghasilkan sekitar 18 kilometer kubik batu apung dan abu.

Letusan hebat tersebut menyebabkan amblesnya Gunung Perbuwatan, Danan, dan separuh dari Gunung Rakata. Peristiwa ini meninggalkan cekungan baru dengan kedalaman mencapai 250 meter dan diameter 70 kilometer.

Proses amblesnya Krakatau memicu gelombang pasang setinggi 20 meter yang menyapu pantai-pantai di Selat Sunda dan pesisir barat Jawa, serta merenggut nyawa 36.417 orang.

Kelahiran Anak Krakatau

Selama puluhan tahun pasca-erupsi 1883, aktivitas vulkanik terus berlangsung. Dari proses inilah, muncul kerucut gunung api baru yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau. Gunung ini lahir pada bulan Desember 1927, atau 44 tahun setelah erupsi besar tersebut.

Daratan Baru Pasca-Erupsi Anak Krakatau

Kini, sejarah kembali terulang dengan munculnya daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa daratan baru tersebut memiliki luas 32,8 hektare.

“Badan Geologi menghitung penambahan luasan sebesar 32,8 ha,” ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM, SS Rita Susilawati, melalui laman media sosial Badan Geologi, pada Kamis (24/9/2026).

Daratan baru ini terletak di antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung di Selat Sunda. Luas daratan tersebut hampir menyamai luas kompleks Candi Prambanan yang mencapai 39,8 hektare.

Kemunculan daratan baru ini merupakan hasil dari endapan material erupsi Gunung Anak Krakatau. Evaluasi berdasarkan citra satelit Sentinel menunjukkan adanya penambahan daratan di sektor barat laut-barat-barat daya tubuh Gunung Anak Krakatau. Hal ini disebabkan oleh pengendapan material piroklastik dan aliran lava dari erupsi yang berlangsung menerus pada 4-6 September 2026.

Citra satelit Sentinel juga mendeteksi adanya gumuk pulau kecil di sebelah barat laut dan tenggara dari tubuh Gunung Anak Krakatau. Badan Geologi menduga bahwa daratan luas ini adalah bagian dari hasil endapan erupsi tersebut.

“Kemunculannya ‘kedua pulau’ tersebut diduga berkaitan dengan erupsi menerus selama sekitar 25 jam,” tambah Rita.

Tinggalkan komentar