Jenazah anak buah kapal (ABK) dari rombongan jurnalis yang hilang, Surakman (60), telah disemayamkan di kampung halamannya di Desa Sukajati, Carita, Pandeglang. Surakman dikenal sebagai sosok pekerja keras yang telah menekuni dunia pelayaran sejak usia belia.
Sejak kecil, Surakman telah menunjukkan perhatian besar kepada kakaknya, Ratna (64), yang mengalami tunanetra sejak lahir. Ia tak hanya sekadar hadir, tetapi juga aktif memastikan kebutuhan dan kenyamanan kakaknya terpenuhi, seperti menengok saat Ratna beraktivitas atau membelikan makanan.
Ratna menceritakan bahwa Surakman mulai melaut tak lama setelah lulus sekolah dasar. Ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan formal dan memilih bekerja bersama ayahnya yang juga seorang pelaut. “Dari kecil, lulus SD. Langsung dia mah cebur ke laut. Bapanya ini pelaut, bapak saya. Cari nangkep-nangkep ikan,” kenang Ratna.
Kemampuannya di laut akhirnya mengantarkan Surakman menjadi ABK di kapal Arupadhatu 1 di bawah kepemimpinan Kapten Warta, yang ternyata adalah adik sepupu Surakman sendiri. “Berhubung sekarang udah zamannya kapal. Kemudian, dipercaya, diserahin kapal sama Kapten Warta. Itu Kapten itu masih saudara. Masih adik sepupu kalau di sininya,” jelas Ratna.
Kepergian adik kesayangannya meninggalkan duka mendalam bagi Ratna. Ia tak kuasa menahan tangis saat mengingat kabar hilangnya Surakman. “Hancur hati saya. Waktu belum pulang malam Selasa sampai jam 10 juga, saya mah udah nggak enak rasa,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Sepupu Surakman, Neneng, menambahkan bahwa sepupunya itu sudah sangat familiar dengan area sekitar Krakatau, bahkan sering berlayar ke sana bersama wisatawan. Sementara itu, anak Surakman, Yayat, menggambarkan ayahnya sebagai sosok yang pendiam namun sangat pekerja keras. Yayat mengaku tidak pernah mendengar keluhan dari ayahnya terkait pekerjaannya.
“Kalau almarhum Bapak, maksudnya orangnya dia mah enggak suka ngeluh. Enggak suka banyak bicara orangnya. Di masyarakat juga enggak banyak komentar, gotong royong sama masyarakat,” ujar Yayat. Ia pun memanjatkan doa agar amal ayahnya diterima oleh Allah SWT dan ditempatkan di tempat yang layak.
Peristiwa ini berawal ketika lima jurnalis dan tiga kru kapal dilaporkan hilang dalam perjalanan menuju Gunung Anak Krakatau pada 7 September 2026. Pada Sabtu (12/9), sebuah jasad tak dikenal ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, yang kemudian diidentifikasi melalui tes DNA. Proses pencarian delapan orang yang hilang tersebut telah dihentikan.
Delapan orang yang hilang tersebut adalah M Bagus Khoirunnas (Antara), Arie Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews), Firman Daus (Anadolu Agency), Donal Husni (jurnalis lepas/freelance), Warta (kapten kapal), Surakman (anak buah kapal/ABK), dan Heriyanto (pemandu).