JAKARTA – Jasad Surakman, seorang anak buah kapal (ABK) dari kapal Arupadhatu I, telah dipastikan sebagai salah satu korban yang hilang saat hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Surakman ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, bersama dengan lima jurnalis dan kru kapal lainnya yang juga dilaporkan hilang di wilayah Selat Sunda. Proses pencarian dan identifikasi jenazah memakan waktu yang cukup panjang.
Penemuan jenazah Surakman terjadi pada 12 September 2026, yang merupakan hari kelima operasi pencarian. Setelah jenazah ditemukan, Polda Bengkulu segera berkoordinasi dengan Polda Banten untuk mencocokkan data antemortem dan postmortem para korban. Kapolda Banten, Irjen Hengki, menjelaskan bahwa proses tes DNA memerlukan waktu yang tidak sebentar.
“Dihasilkan pemeriksaan DNA kurang lebih selama 10 hari. Jadi bukan lama, bukan terlambat, tetapi memastikan tes DNA berjalan dengan baik menghasilkan kejelasan identifikasi sehingga hari ini kita sampaikan kepada rekan-rekan media,” ujar Hengki dalam konferensi pers di Polda Banten pada Rabu (23/9). Hasil tes DNA baru diterima Polda Banten pada Selasa (22/9), sepuluh hari setelah jenazah ditemukan.
Kronologi Hilangnya Kapal Arupadhatu I
Kapal Arupadhatu I yang mengangkut lima jurnalis dan tiga kru lainnya dilaporkan hilang kontak setelah berangkat pada 7 September. Kapal tersebut bertujuan untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Adapun identitas delapan orang yang berada di kapal tersebut adalah:
- M. Bagus Khoirunnas (Antara)
- Arie Basuki (Merdeka.com)
- Yudistiro Pranoto (iNews)
- Firman Daus (Anadolu Agency)
- Donal Husni (jurnalis lepas/freelance)
- Warta (kapten kapal)
- Surakman (anak buah kapal/ABK)
- Heriyanto (pemandu).
7 September
Kapal bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9) pukul 14.00 WIB. Keesokan harinya, pada Selasa (8/9), pihak kepolisian menerima laporan kehilangan kontak dari keluarga korban yang belum kembali.
12 September
Operasi pencarian dimulai di wilayah Selat Sunda dan kemudian diperluas. Pada hari kelima pencarian, 12 September, tim SAR menerima informasi mengenai penemuan jenazah tak dikenal di Pulau Enggano, Bengkulu Utara. Pihak kepolisian segera berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk mengevakuasi jenazah dan mengumpulkan sampel DNA dari keluarga delapan korban.
23 September
Setelah melalui proses pemeriksaan, jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano dipastikan sebagai Surakman. Pemeriksaan DNA menunjukkan kecocokan dengan data antemortem yang diberikan oleh putra kandung Surakman. “Teridentifikasi sebagai Surakman atau ABK kapal, ayah biologis dari Tuan Yayat. Tuan Yayat ini adalah putra kandung dari Bapak Surakman,” jelas Hengki.
Jarak Lokasi Penemuan Jasad dari Titik Hilang Kontak
Jarak antara Pulau Enggano, lokasi penemuan jasad Surakman, dengan titik terakhir kapal terdeteksi di Pulau Sebesi diperkirakan mencapai 345,05 kilometer. Pulau Enggano terletak di perairan Samudra Hindia, sebelah barat daya Pulau Sumatera, sementara Pulau Sebesi berada di Selat Sunda, masuk wilayah Lampung Selatan.