Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sedang mendalami berbagai aspek terkait tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa. Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, menyatakan bahwa timnya tengah mengumpulkan data detail mengenai kapal tersebut.
“Kami sedang dalami tentang semua detail kapal dengan para ahlinya. Tapi saat ini masih dalam taraf pengumpulan data,” kata Soerjanto kepada wartawan, Sabtu (18/9/2026).
Investigasi ini mencakup pendalaman terhadap kondisi cuaca saat kejadian, muatan kapal, perhitungan stabilitas, serta proses tanggap darurat. KNKT juga tengah mengumpulkan informasi mengenai dugaan bahwa Kapal Virgo tidak sesuai dengan desain awal yang hanya diperuntukkan bagi pelayaran jarak pendek.
“Banyak (yang didalami) antara lain kondisi cuaca, muatan kapal, perhitungan stabilitas kapal, proses tanggap darurat kapal dan lain-lain,” ucapnya.
Selain itu, KNKT akan menelusuri informasi mengenai tidak adanya alarm darurat bagi penumpang saat kapal mulai miring hingga akhirnya terbalik. Semua kemungkinan akan diteliti lebih lanjut.
“Itu (alarm) termasuk dalam tanggap darurat kapal. Kita akan dalami,” ujarnya.
Kesaksian Penumpang
Salah satu korban selamat, Ahmad Saudi, menceritakan suasana mencekam saat Kapal Virgo Transport 8 mulai miring di Laut Jawa. Ia menggambarkan kepanikan ratusan orang yang berusaha menyelamatkan diri dalam kondisi gelap.
Menurut Ahmad, kapal tersebut penuh sesak oleh penumpang, banyak di antaranya terpaksa tidur di area umum seperti sofa karena kamar yang sudah terisi penuh.
“Saya kan bawa bus, saya punya unit di sini. Habis ngambil bus, saya kirim ke sini. Saya tidurnya di dekat kabin, di sofa. Kamar itu kan penuh, jadi saya tidur di kursi panjang,” ceritanya saat ditemui di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Minggu (13/9/2026).
Ahmad menambahkan bahwa kapal dihantam ombak dari berbagai arah. Kemiringan kapal yang cepat diduga akibat beban truk-truk yang terparkir di sisi kiri kapal.
“Saya ngikutin kapal aja. Kapal miring, kita pegangan dulu di atas kapal. Abis gitu kapal miring, langsung kita naik ke ujungnya kapal yang bawah itu. (Ombak) samping kanan kiri,” tuturnya.
Kekhawatiran terbesar Ahmad adalah nasib penumpang perempuan yang mayoritas memilih tidur di dalam kamar.
Ia menduga banyak penumpang, terutama perempuan dan anak-anak, terjebak di dalam kamar kelas ekonomi saat kapal mulai miring dengan cepat.
“Tapi yang lain, ibu-ibu yang tinggal di kamar ekonomi ya, itu mungkin nggak selamat karena terlalu cepat kapal ini kemiringannya. Sedangkan alarm pemberitahuan aja nggak ada. Nggak ada tanda-tanda. Yang keluar ini kan supir-supir aja, orang laki-laki. Yang di kamar-kamar belum bisa keluar,” katanya.