Kemendikbudristek Luncurkan Survei Arah Pendidikan Tinggi: Gratis, Berkualitas, atau Merata?

Wamendikbudristek Stella Christie ajak publik tentukan arah pendidikan tinggi Indonesia melalui survei mengenai kualitas, kuantitas, dan keterjangkauan.

Kemendikbudristek Luncurkan Survei Arah Pendidikan Tinggi: Gratis, Berkualitas, atau Merata?
Ilustrasi kuliah gratis. Foto: Ilustrasi AI diolah oleh Gemini AI

JAKARTA – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti­saintek) Prof. Stella Christie menyatakan bahwa pengaturan sistem perguruan tinggi sangatlah kompleks. Pernyataan ini disampaikan terkait dengan adanya wacana pendidikan gratis di perguruan tinggi negeri (PTN) dari jenjang TK hingga perguruan tinggi.

Stella menuturkan bahwa masyarakat tentu menginginkan adanya perguruan tinggi dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang terjangkau, bahkan gratis. Namun, ia menekankan bahwa subsidi pembiayaan tersebut tidak boleh mengorbankan kesejahteraan dosen dan pendanaan untuk kegiatan riset.

“Kita inginnya UKT murah atau bahkan gratis. Tapi, gaji dosen harus tinggi dan juga dana riset harus banyak,” ujar Stella Christie dalam unggahan Instagram resminya pada Sabtu (10/10/2026).

Ia menjelaskan bahwa mewujudkan ketiga aspek tersebut secara bersamaan merupakan tantangan besar. Stella mengibaratkan pendidikan tinggi ideal sebagai sebuah segitiga yang memiliki tiga sisi: kualitas, keterjangkauan, dan kuantitas. Ketiga sisi ini sulit untuk dipenuhi secara sempurna.

“Perguruan tinggi itu rumit, kenapa? karena ada segitiga yang tidak bisa ditutup atau sulit ditutup yaitu dari kualitas, keterjangkauan, dan kuantitas,” jelasnya.

Posisi Perguruan Tinggi Indonesia dalam Segitiga Pendidikan

Stella memaparkan bahwa wacana pendidikan gratis yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto masuk dalam aspek keterjangkauan dalam segitiga pendidikan tersebut.

“Bapak Presiden mencanangkan bawah kita akan menuju ke PTN akan gratis. Inilah yang dimaksud dengan keterjangkauan,” ungkap Stella.

Namun, ia menegaskan bahwa aspek keterjangkauan ini harus tetap diseimbangkan dengan aspek lainnya, terutama kualitas. Stella tidak ingin jika pendidikan gratis justru menghasilkan perguruan tinggi yang berkualitas rendah.

“Tentu saja kita tidak mau perguruan tinggi kita itu gratis, tapi abal-abal,” tegasnya.

Lebih lanjut, Stella mempertanyakan kemungkinan untuk menyediakan pendidikan tinggi yang berkualitas, terjangkau, dan merata dalam jumlah yang besar secara bersamaan. Ia membayangkan besarnya anggaran yang dibutuhkan untuk mewujudkan hal tersebut.

“Jadi, sulit untuk tiga-tiganya itu nyambung. Bahkan kita tidak bisa di tengah-tengah, kita harus memilih strategi. Kalau di tengah-tengah kualitasnya tengah-tengah, terjangkaunya tengah-tengah, kuantitasnya juga tengah-tengah, tidak baik,” ujar Stella.

Oleh karena itu, setiap negara perlu memiliki strategi pendidikan tinggi masing-masing. Ia mencontohkan Amerika Serikat yang lebih mengutamakan kuantitas dan kualitas, sehingga biaya pendidikannya sangat mahal karena tidak memprioritaskan keterjangkauan. Sebaliknya, China memilih strategi yang lebih fokus pada kualitas dan keterjangkauan, namun membatasi kuantitas.

“Tingkok (China) memilih strategi yang lebih ke arah kualitas dan keterjangkauan, tetapi kuantitasnya dibatasi,” jelasnya.

Survei Arah Perguruan Tinggi Indonesia

Untuk menentukan arah dan strategi pendidikan tinggi di Indonesia, Stella mengajak masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam survei yang dapat diakses melalui tautan https://link.kemdiktisaintek.go.id/survey-3k.

Survei tersebut berisi dua pertanyaan utama: pertama, menanyakan posisi perguruan tinggi Indonesia saat ini dalam segitiga pendidikan; dan kedua, menanyakan strategi yang seharusnya ditempuh oleh Indonesia ke depan.

Survei ini terbuka untuk mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, maupun masyarakat umum. Peserta hanya perlu mengakses tautan yang diberikan dan mengisi pertanyaan yang tersedia.

“Ayo isi di survei, kita ingin masukkan dari kalian. Ayo jawab karena ini sangat membantu kita untuk memikirkan kebijakan kita dengan sebijaksana mungkin,” tandas Stella.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *