Johan Rosihan Ajak Generasi Muda Ambil Peran Aktif dalam Estafet Perjuangan Bangsa

Jakarta – Wakil Ketua Badan Anggaran MPR RI, Johan Rosihan, mengajak generasi muda untuk tidak memposisikan diri sebagai penonton dalam perjalanan bangsa Indonesia. Menurutnya, generasi muda saat ini memegang estafet perjuangan yang telah diwariskan oleh generasi-generasi sebelumnya.

Johan mengibaratkan perjalanan bangsa seperti lari estafet. Ia menjelaskan, para pendiri bangsa telah memulai perlombaan ini, kemudian setiap generasi menerima tongkat estafet tersebut, berlari sesuai zamannya, lalu menyerahkannya kepada generasi berikutnya.

Pernyataan ini disampaikan Johan dalam Sarasehan Kebangsaan bersama Garuda Keadilan Jakarta Selatan (GK Seljak) yang dikemas dalam talkshow bertajuk ‘Aku, Kamu & Indonesia Hari Ini’, di Jakarta Selatan, Sabtu (12/9). Acara ini juga menghadirkan aktivis muda dan Ketua BEM UGM 2019, M. Atiatul Muqtadir.

Johan menekankan pentingnya cara pandang ini agar generasi muda memahami bahwa kemerdekaan dan perjalanan kebangsaan bukanlah pencapaian yang selesai pada satu generasi. Setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda, sehingga membutuhkan bentuk perjuangan yang berbeda pula.

“Generasi kita tidak diminta mengulangi apa yang dilakukan generasi 1928 atau 1945. Tantangannya sudah berbeda. Tetapi semangatnya sama: apa yang bisa kita kerjakan agar ketika tongkat estafet itu kita serahkan, Indonesia berada dalam keadaan lebih baik daripada ketika kita menerimanya,” ujar Johan.

Ia menilai, negara juga memiliki tanggung jawab untuk memahami keresahan, aspirasi, bahasa, dan perubahan cara berpikir generasi muda, serta menyediakan ruang nyata bagi partisipasi mereka. Hal ini penting agar negara tidak hanya meminta anak muda untuk memahami negara.

“Jangan hanya meminta anak muda memahami negara. Negara juga harus belajar memahami anak muda. Ruangnya bukan sekadar mengundang mereka hadir, tetapi memberikan kesempatan untuk menyampaikan gagasan, berkolaborasi, bahkan ikut memengaruhi proses pengambilan keputusan,” katanya.

Dalam membangun Indonesia, Johan mendorong generasi muda untuk memulai dari persoalan terdekat dengan kehidupan mereka. Keresahan terhadap persoalan bangsa perlu ditingkatkan menjadi pengetahuan, lalu diolah menjadi gagasan, dan akhirnya diwujudkan melalui kerja bersama.

“Jangan berhenti pada kritik. Ubah keresahan menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi gagasan, gagasan menjadi kolaborasi, dan kolaborasi menjadi aksi nyata. Indonesia terlalu besar untuk dibangun sendirian,” tegas Johan.

Ia menambahkan, kontribusi terhadap bangsa tidak harus selalu melalui jalur politik atau jabatan publik. Anak muda dapat berkontribusi melalui bidang pendidikan, teknologi, kewirausahaan, pertanian, lingkungan, profesi, komunitas, maupun berbagai bentuk pengabdian sosial.

Oleh karena itu, Johan menyarankan agar pertanyaan yang perlu dibiasakan kepada generasi muda bukan hanya “apa yang negara berikan kepada saya?”, melainkan juga “apa yang dapat saya berikan kepada republik ini?”

“Kritik adalah bagian penting dari demokrasi. Anak muda harus berani mengkritik negara ketika ada yang salah. Tetapi kritik harus kita naikkan menjadi kemampuan memahami masalah, menawarkan alternatif, dan bersedia ikut mengerjakannya. Kritik adalah bentuk kepedulian, sedangkan kontribusi adalah bentuk tanggung jawab,” ujarnya.

Johan menekankan bahwa semangat kebangsaan pada akhirnya harus mampu mengubah hubungan antara ‘aku’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’. Perbedaan generasi, profesi, maupun pandangan politik tidak seharusnya menghilangkan kesadaran akan tujuan bersama sebagai bangsa.

“Dari ‘aku’ dan ‘kamu’, kita harus sampai kepada ‘kita’. Sebab Indonesia tidak pernah dibangun oleh satu orang atau satu generasi. Indonesia dibangun ketika banyak orang dengan latar belakang berbeda bersedia mengambil tanggung jawab bersama,” katanya.

Menutup sarasehan, Johan menitipkan pesan kepada generasi muda agar tidak merasa hanya menunggu giliran untuk memiliki dan menentukan masa depan Indonesia.

“Kalian bukan generasi yang sedang menunggu giliran. Kalian adalah generasi terbaru dari estafet perjuangan Indonesia. Tugas kita bukan sekadar menerima Indonesia, tetapi membuatnya lebih baik sebelum menyerahkannya kepada generasi berikutnya,” pungkas Johan.

Tinggalkan komentar