Insiden Kapal Terbalik, Komisi V DPR Mendesak Moratorium Operasional Kapal Penumpang

JAKARTA – Wakil Ketua Komisi V DPR, Syaiful Huda, mendesak dilakukannya moratorium atau penundaan seluruh operasional kapal penumpang menyusul insiden terbaliknya KMP Virgo Transport 8. Moratorium ini diharapkan dapat memastikan kapal-kapal yang beroperasi benar-benar laik jalan.

“Yang pertama, kita minta untuk dilakukan moratorium terkait dengan operasionalisasi, terutama di semua operator kapal. Moratorium ini berbentuk kira-kira semua jalur pada penumpang kita minta untuk dilakukan semacam kepastian dari laik dan tidak laiknya kapal. Ramp check ini betul-betul harus dipastikan seluruh operator kapal dalam rangka untuk memastikan laik tidaknya,” ujar Huda kepada wartawan, Selasa (15/9/2026).

Huda meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pemberian izin kepada seluruh kapal. Ia menekankan perlunya sanksi pencabutan izin diterapkan bagi kapal yang melanggar standar pelayanan dan keselamatan penumpang.

“Begitu didapati bermasalah, baik operator kapal yang tidak memenuhi standar pelayanan, standar untuk keselamatan dan keamanan, dan bahkan kalau ada yang berpotensi melanggar, kita minta untuk dilakukan sanksi yang sifatnya tidak hanya administratif tapi kita minta untuk sampai ada potensi sanksi pencabutan izin,” jelasnya.

Lebih lanjut, politikus PKB ini mendesak Kemenhub untuk menerapkan sistem terintegrasi terkait seluruh manifest kapal yang beroperasi di Indonesia. Menurutnya, hal ini sangat mendesak dan tidak dapat ditawar.

“Kita minta supaya teman-teman Kemenhub betul-betul bisa memastikan sistem terintegrasi menyangkut soal manifest kapal kita. Jadi ini sudah tidak bisa lagi ditawar-menawar, dinegosiasikan. Jadi sistem terintegrasi untuk manifest semua kapal bisa dilaksanakan ke depan ini,” tegasnya.

Ia menambahkan, hal ini juga menyangkut isu pengawasan yang dilakukan oleh seluruh Syahbandar, terutama di pelabuhan-pelabuhan besar.

Sebelumnya, Kapal Virgo Transport 8 yang mengangkut 243 orang terbalik dan tenggelam setelah menghadapi cuaca buruk dalam perjalanannya dari Surabaya menuju Banjarmasin. Berdasarkan data dari Basarnas dan Kemenhub, sebanyak 114 korban telah berhasil dievakuasi.

Dikutip dari situs resmi Kemenhub pada Senin (14/9), data manifes kapal menunjukkan bahwa kapal tersebut membawa total 243 orang. Rinciannya terdiri dari 30 kru, 27 mitra kerja kapal, 59 penumpang dewasa, satu anak-anak, serta 126 sopir dan kernet beserta 89 unit muatan kendaraan.

Tinggalkan komentar