Lampung Selatan – Kondisi Gunung Anak Krakatau dilaporkan mulai mereda pasca-erupsi besar yang terjadi pada 3 September 2026. Saat ini, aktivitas gunung berapi tersebut didominasi oleh kegempaan dan keluarnya asap putih sisa erupsi. Dari sisa aktivitas inilah, muncul sebuah fenomena menarik yang disebut ‘telor ceplok’.
Fenomena ini terekam dalam sebuah video yang dibagikan melalui akun Instagram @wxchasing. Video tersebut menampilkan Gunung Anak Krakatau dalam kondisi yang relatif tenang, berbeda dengan kondisi sebelumnya yang menyebabkan sebaran abu vulkanik hingga ke beberapa provinsi, termasuk Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jakarta, dan Jawa Barat.
Menanggapi rekaman video tersebut, Suwarno, Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan, memberikan penjelasan. Ia menyatakan bahwa fenomena ‘telor ceplok’ merupakan kejadian yang wajar terjadi setelah aktivitas erupsi. Menurutnya, gambar yang menyerupai telor ceplok tersebut sebenarnya adalah air yang bercampur dengan belerang.
“Iya, itu kawah GAK, jadi itu adalah air yang terkontaminasi dengan gas belerang,” kata Suwarno, seperti dikutip dari detikSumbagsel pada Jumat (18/9/2026).
Suwarno menambahkan bahwa tidak semua gunung berapi akan menunjukkan fenomena serupa. Ia menjelaskan bahwa fenomena yang terlihat di Gunung Anak Krakatau merupakan hasil dari kontaminasi antara air dengan dinding kawah.
“Tidak semuanya, kalau belerang semuanya gunung api pasti ada. Di sana (GAK) ada genangan air, terkontaminasi oleh belerang jadi seperti itu warnanya, dan juga bisa terkontaminasi dengan lapisan dinding kawah itu,” jelasnya lebih lanjut.
Meskipun erupsi besar telah berhenti, Suwarno mengonfirmasi bahwa aktivitas kegempaan di Gunung Anak Krakatau masih terus berlangsung. Tercatat pada Jumat (18/9/2026) dini hari, terjadi satu kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 12 milimeter dan durasi 5 detik. Selain itu, satu kali gempa tektonik jauh juga tercatat dengan amplitudo 8 milimeter dan durasi 72 detik.
“Kalau kegempaan masih terjadi, tercatat tadi malam Tremor menerus (microtremor) terekam dengan amplitudo 0,5-6 mm (dominan 2 mm),” ungkapnya.