Fadli Zon: Bahasa Indonesia Fondasi Pererat Budaya RI-Mesir

JAKARTA – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menyoroti peran krusial bahasa Indonesia dalam mempererat hubungan antara Indonesia dan Mesir. Menurutnya, bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga pintu untuk memahami kebudayaan, sejarah, cara berpikir, dan identitas suatu bangsa.

Penekanan ini disampaikan Fadli saat memberikan kuliah umum kebudayaan di hadapan sekitar 250 mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Penerjemahan Universitas Al-Azhar, Kairo. Ia mengapresiasi pembukaan program studi tersebut pada Oktober 2025 sebagai langkah strategis dalam memperkuat hubungan pendidikan dan kebudayaan kedua negara.

Fadli Zon memuji antusiasme mahasiswa yang memilih mempelajari bahasa dan sastra Indonesia di salah satu institusi pendidikan Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia tersebut. “Saudara-saudara adalah bagian dari jembatan kebudayaan Indonesia dan Mesir. Ketika mempelajari bahasa Indonesia, sesungguhnya saudara juga sedang mempelajari Indonesia, masyarakatnya, sejarahnya, dan kebudayaannya yang sangat beragam,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa bahasa Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi bahasa internasional. Dengan basis penutur yang besar dan tersebar luas, baik di dalam maupun luar negeri, bahasa Indonesia memiliki modal penting untuk penguatan posisinya di kancah internasional. “Bahasa Indonesia memiliki jumlah penutur yang sangat besar. Ini adalah kekuatan yang harus kita dorong agar bahasa Indonesia semakin dikenal, dipelajari, dan digunakan di dunia internasional,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Fadli Zon menyampaikan cita-cita agar bahasa Indonesia mendapatkan tempat yang lebih luas dalam komunitas internasional, bahkan harapan agar suatu saat bisa menjadi salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa. “Saudara-saudara adalah bagian dari masa depan bahasa Indonesia di dunia. Semakin banyak orang mempelajari bahasa Indonesia, semakin terbuka pula jalan untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia,” tuturnya.

Ia mendorong para mahasiswa untuk tidak hanya fokus pada tata bahasa dan sastra, tetapi juga mendalami Indonesia secara komprehensif, termasuk sejarah, seni, tradisi, kuliner, dan perkembangan kebudayaan kontemporernya. Fadli memperkenalkan Indonesia sebagai negara dengan keragaman budaya yang luar biasa, terdiri dari lebih dari 1.300 kelompok etnis dan lebih dari 700 bahasa daerah yang hidup dalam satu kesatuan bangsa.

“Indonesia adalah negara yang sangat beragam. Kita memiliki ribuan pulau, lebih dari 1.300 kelompok etnis, lebih dari 700 bahasa daerah, serta berbagai tradisi dan ekspresi budaya. Semuanya hidup dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika,” jelasnya. Keberagaman ini, menurutnya, bukan sekadar fakta demografis, melainkan identitas dan kekayaan budaya Indonesia yang dapat menjadi bagian dari dialog kebudayaan internasional.

Fadli Zon mengingatkan kembali sejarah panjang hubungan Indonesia dengan Mesir dan Al-Azhar yang telah terjalin jauh sebelum Indonesia merdeka. Para ulama dan pelajar dari Nusantara telah lama datang ke Mesir untuk menuntut ilmu dan membawa pulang pengetahuan tersebut. “Hubungan Indonesia dengan Al-Azhar sudah berlangsung sangat lama. Para ulama dan pelajar Indonesia datang ke sini, belajar, kemudian kembali ke Indonesia dan memberikan kontribusi besar dalam pendidikan, kehidupan keagamaan, dan kebudayaan,” imbuhnya.

Ia juga menekankan bahwa Mesir adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Hubungan kedua negara terus berkembang melalui berbagai momentum sejarah penting, seperti Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok. Fadli mengajak para mahasiswa untuk melihat diri mereka sebagai bagian integral dari hubungan kebudayaan Indonesia-Mesir.

“Pelajari Indonesia dengan sungguh-sungguh. Kenali bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaannya. Karena setiap kali saudara menggunakan bahasa Indonesia dan berbicara tentang Indonesia, sesungguhnya saudara sedang menjadi bagian dari jembatan yang menghubungkan masyarakat Mesir dan Indonesia,” ujar Fadli Zon. Ia menutup dengan harapan agar hubungan yang telah terjalin lebih dari satu abad antara Indonesia dan Al-Azhar terus berkembang melalui generasi muda, serta menitipkan bahasa dan kebudayaan Indonesia kepada para mahasiswa.

Tinggalkan komentar