JAKARTA – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan terbentuknya dua pulau baru di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Kemunculan daratan baru ini terdeteksi berdasarkan analisis citra satelit Sentinel.
Kedua pulau baru tersebut terpantau berada di sebelah barat laut dan tenggara dari kawah utama Gunung Anak Krakatau. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), SS Rita Susilawati, menyatakan bahwa pembentukan daratan ini diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi menerus yang berlangsung selama kurang lebih 25 jam.
“Kemunculannya ‘kedua pulau’ tersebut diduga berkaitan dengan erupsi menerus selama sekitar 25 jam,” ujar Rita dalam keterangan resmi yang dibagikan melalui media sosial Badan Geologi, Kamis (24/9/2026).
Selain dua pulau utama, dilaporkan pula adanya penambahan daratan di kawasan yang sama. Badan Geologi mencatat penambahan luasan daratan baru seluas 32,8 hektare di sekitar Gunung Anak Krakatau. Luas ini hampir menyamai kompleks Candi Prambanan yang memiliki luas 39,8 hektare.
Daratan baru tersebut muncul di antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung. Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau mengonfirmasi penambahan luasan ini. Hasil evaluasi Badan Geologi, berdasarkan citra satelit Sentinel, menunjukkan penambahan daratan pada tubuh Gunung Anak Krakatau di sektor barat laut-barat-barat daya. Fenomena ini merupakan akibat pengendapan material piroklastik dan aliran lava dari erupsi menerus yang terjadi pada periode 4-6 September 2026.