JAKARTA – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto memberikan keterangan mengenai kondisi terkini di Nusa Tenggara Timur (NTT) pasca-gempa dahsyat bermagnitudo 7,7. Ia mengungkapkan upaya percepatan penyaluran bantuan logistik bagi para penyintas gempa terus dilakukan.
“Kami terus bekerja keras dan cepat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di pengungsian dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi di lapangan,” ujar Suharyanto dalam keterangannya pada Jumat (21/8/2026).
Menurut catatan BNPB, penanganan pascabencana gempa di NTT menghadapi beberapa tantangan. Keluhan dari warga terkait krisis air bersih dan listrik dilaporkan di sejumlah posko, termasuk di posko pengungsian Reo, Kabupaten Manggarai. Situasi ini berdampak pada para penyintas.
Suharyanto menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak. “Kami memahami kesulitan yang dialami saudara-saudara kita di pengungsian. Bantuan logistik presiden telah didistribusikan dengan total bantuan yang dikirimkan sebanyak 411 ton dari tanggal 15 sampai 19 Agustus 2026,” jelasnya.
Pada 19 Agustus 2026, distribusi bantuan logistik melalui jalur udara mencapai 72,77 ton. Prioritas pengiriman pada hari yang sama meliputi 5.000 paket sembako untuk Posko Maumere dan 2.900 paket sembako untuk Posko Labuan Bajo.
Pendistribusian logistik juga didukung oleh sejumlah armada laut. Kapal Republik Indonesia (KRI) Bung Hatta telah diberangkatkan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reok, Kabupaten Manggarai, membawa paket bantuan Presiden RI, sembako, tenda keluarga, tenda pengungsi, serta donasi masyarakat. Bantuan ini ditujukan untuk Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
TNI Angkatan Laut juga mengerahkan kapal bantu rumah sakit (RS), KRI dr. Soeharso, untuk mendukung pelayanan kesehatan. Dukungan logistik mencakup beras, sembako, air mineral, obat-obatan, matras, selimut, tenda, perlengkapan kebersihan diri (hygiene kit), bahan bakar minyak (BBM), genset, dan kebutuhan lainnya. Sebanyak 882 unit tenda dan dua unit rumah sakit lapangan telah disiapkan.
“Kami memastikan distribusi terus berjalan ke wilayah terisolasi, termasuk melalui jalur laut dan udara, agar kebutuhan dasar warga di pengungsian dan daerah terdampak terpenuhi,” kata Suharyanto.
Perbaikan Infrastruktur dan Telekomunikasi
Suharyanto menambahkan bahwa pemulihan infrastruktur terus digencarkan. Ia menyebut kondisi telekomunikasi berangsur membaik, dengan prioritas di Manggarai Timur dan Ende. Dukungan berupa Free Wi-Fi dan mobile genset juga disediakan di posko darurat.
Badan Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) NTT telah menangani sebagian besar titik longsor serta memulihkan ruas jalan dan jembatan yang kritis. Suharyanto menekankan pentingnya menjaga kelancaran komunikasi bagi warga terdampak.
“BNPB bersama Pemerintah Daerah, TNI/Polri, Basarnas, relawan, dan seluruh unsur terus bergerak di lapangan. Saya sendiri meninjau langsung kondisi di Sikka, Ngada, Nagekeo, dan Ende untuk memastikan bantuan sampai tepat sasaran dan mendengar kebutuhan warga secara langsung,” jelasnya.
83 Korban Jiwa Akibat Gempa
Jumlah korban jiwa akibat gempa M 7,7 di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 83 orang. Angka ini berdasarkan data dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) hingga Jumat siang.
Deputi Operasi dan Siaga Basarnas Mayjen TNI (Mar) Edy Prakoso menyatakan, hingga Jumat (21/8/2026) pukul 11.00 WIB, tercatat 1.050 orang menjadi korban gempa.
“83 orang meninggal dunia, 328 orang luka berat, dan 639 luka ringan,” ujar Edy dalam siaran pers.
Edy menyebut Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, dengan 670 orang terdampak, termasuk 70 orang yang meninggal dunia.