JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan klarifikasi terkait pertanyaan publik mengenai keamanan air hujan buatan hasil dari teknologi modifikasi cuaca yang beberapa waktu terakhir jatuh di berbagai wilayah Indonesia. BMKG menjamin bahwa air hujan tersebut aman dan tidak mengandung zat berbahaya bagi kesehatan.
Menurut penjelasan BMKG melalui akun Instagram resminya, @infoBMKG, bahan-bahan yang digunakan dalam proses modifikasi cuaca, seperti natrium klorida (NaCl) atau kalium klorida (KCl), merupakan bahan berkualitas food-grade. Bahan-bahan ini bersifat non-toksik dan diaplikasikan dalam dosis yang sangat kecil sehingga tidak menimbulkan bahaya.
Lebih lanjut, BMKG menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan serangkaian uji laboratorium terhadap sampel air hujan hasil modifikasi cuaca. Hasil pengujian laboratorium tersebut secara konsisten menunjukkan bahwa air hujan buatan memiliki sifat netral hingga basa, yang berarti tidak berbahaya bagi manusia maupun lingkungan.
Mengenai persepsi mengenai air hujan buatan yang terlihat kotor saat pertama kali jatuh, BMKG menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena air hujan bertindak sebagai pembersih alami atmosfer. Tetesan air hujan mampu membawa turun partikel-partikel debu, polusi dari kendaraan bermotor, hingga asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang ada di udara.
Oleh karena itu, BMKG menegaskan bahwa baik hujan alami maupun hujan hasil modifikasi cuaca, tetesan air pertama yang tampak kotor murni disebabkan oleh kondisi atmosfer yang tercemar. Fenomena ini tidak berkaitan dengan bahan kimia yang digunakan sebagai pembenih awan.