JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terus meluas di wilayah Riau telah memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Data terbaru dari Dinas Kesehatan Riau mencatat, jumlah kasus ISPA mencapai lebih dari 11.000 sejak awal hingga pertengahan September.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Riau, Zulkifli, data per 1 hingga 14 September menunjukkan total 11.370 kasus ISPA akibat paparan asap Karhutla. Kasus ini dilaporkan tersebar di 12 kabupaten dan kota di Riau. Puncak peningkatan kasus terjadi pada 10 September, dengan lebih dari 1.200 kasus baru dilaporkan pada hari itu.
Meskipun terjadi lonjakan signifikan, Zulkifli memastikan bahwa belum ada laporan kasus ISPA yang memerlukan rujukan ke rumah sakit. Seluruh penanganan masih dilakukan di tingkat Puskesmas melalui konsultasi dan penanganan awal. Data ini juga telah dilaporkan ke Kementerian Kesehatan.
Kasus ISPA mulai tercatat meningkat sejak 19 Agustus lalu, awalnya hanya empat daerah yang terdampak Karhutla dan melaporkan kasus. Empat daerah tersebut adalah Siak, Kampar, Pelalawan, dan Pekanbaru. Seiring waktu, jumlah daerah terdampak meluas hingga mencapai 12 kabupaten dan kota di Riau.
Pembelajaran Jarak Jauh Diberlakukan di Pekanbaru
Menyikapi kondisi kualitas udara yang memburuk, Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho menetapkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi peserta didik jenjang PAUD/TK, SD, dan SMP. Kebijakan ini berlaku mulai 16 hingga 19 September.
Agung menyatakan bahwa keputusan ini diambil karena kualitas udara Kota Pekanbaru kembali memburuk dan dinilai tidak aman bagi kesehatan anak-anak. “Mulai besok sampai hari Sabtu, seluruh satuan pendidikan PAUD, TK, SD, dan SMP melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Keputusan ini kita ambil karena kondisi udara sudah sangat tidak sehat, terutama bagi anak-anak,” ujar Agung.
Berdasarkan data BMKG pada 15 September pukul 14.00 WIB, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat mencapai 243, yang berada dalam kategori sangat tidak sehat. Kebijakan PJJ ini bukan berarti meliburkan proses belajar, melainkan mengalihkan metode pembelajaran dari rumah.
Wali Kota mengimbau para guru untuk menyiapkan materi pembelajaran dengan baik dan tidak memberikan tugas yang memberatkan siswa maupun orang tua. Ia juga memohon peran serta orang tua untuk mendampingi anak-anak selama mengikuti PJJ.
BMKG: Asap Riau Diduga Kiriman dari Selatan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mengungkapkan bahwa asap yang menyelimuti Riau tidak seluruhnya berasal dari Karhutla lokal. Terdapat indikasi kuat adanya kiriman asap dari wilayah lain di sebelah selatan Riau.
Kepala BMKG Pekanbaru, Warjono, menjelaskan bahwa citra satelit menunjukkan pergerakan asap dari wilayah selatan Riau. “Berdasarkan pola angin dan citra sebaran asap yang kami pantau, terdapat potensi kiriman asap dari wilayah di sebelah selatan Riau. Karena asap bergerak mengikuti arah angin, kondisi yang terpantau di Riau tidak hanya dipengaruhi sumber yang berada di dalam wilayah Riau,” kata Warjono.
Data BMKG mencatat terdapat 4.127 hotspot di Sumatera pada Selasa siang. Konsentrasi terbesar berada di Sumatera Selatan (2.878 titik), diikuti Lampung (468 titik), Bangka Belitung (318 titik), dan Jambi (285 titik). Riau sendiri tercatat memiliki 96 titik hotspot.
Pada pembaruan data pukul 00.00 hingga 14.00 WIB, BMKG Riau mencatat 29 hotspot di wilayahnya, dengan mayoritas berada di Indragiri Hulu (19 titik). Citra sebaran asap BMKG juga menunjukkan asap terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera dan secara umum bergerak menuju barat laut.
Pemantauan pergerakan massa udara regional memperlihatkan lintasan asap dari Kalimantan menuju sekitar Kepulauan Riau, Singapura, dan Malaysia. Hal ini mengindikasikan bahwa persoalan asap bersifat lintas wilayah dan pergerakannya sangat dipengaruhi oleh dinamika atmosfer.
Saat ini, tim gabungan BPBD, Polri, TNI, Manggala Agni, pemerintah daerah, dan Masyarakat Peduli Api terus berupaya melakukan pemadaman dan pendinginan. Operasi darat didukung dengan water bombing dan operasi modifikasi cuaca sesuai dengan kebutuhan dan kondisi atmosfer.