Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan di wilayah Jakarta akan segera tiba. Musim hujan diprakirakan mulai masuk pada bulan Oktober 2026, dengan puncak intensitas hujan yang diperkirakan akan terjadi pada periode Januari hingga Februari 2027.
Prediksi ini disampaikan oleh Sekretaris Utama (Sestama) BMKG, Guswanto, kepada wartawan pada Minggu (20/9/2026). Menurut Guswanto, terdapat empat faktor utama yang memengaruhi prediksi musim hujan di Jakarta.
Keempat faktor tersebut meliputi angin monsun Asia, fenomena El Niño, Indian Ocean Dipole (IOD), serta suhu muka laut. BMKG mengidentifikasi bahwa pergeseran angin dari benua Asia yang membawa massa udara lembap ke wilayah Indonesia menjadi pemicu utama dimulainya musim hujan pada bulan Oktober.
“Pergeseran angin dari benua Asia membawa massa udara lembap ke wilayah Indonesia, memicu hujan mulai Oktober,” ujar Guswanto.
Meskipun fenomena El Niño diprediksi akan bertahan hingga awal 2027, BMKG meyakini bahwa hujan akan tetap turun. Guswanto menjelaskan bahwa dampak El Niño terhadap curah hujan di Indonesia sangat bergantung pada kondisi suhu laut lokal. “Tahun ini El Niño masih bertahan hingga awal 2027. Meski biasanya mengurangi curah hujan, dampaknya di Indonesia bergantung pada kondisi suhu laut lokal. BMKG menilai hujan tetap akan turun, meski intensitasnya bisa lebih rendah dari normal,” jelasnya.
Faktor Indian Ocean Dipole (IOD) juga turut diperhitungkan. BMKG menilai IOD yang saat ini berada dalam kondisi netral, dengan indeks +0,37, tidak akan memberikan pengaruh signifikan yang menekan atau memperkuat intensitas hujan. “Saat ini dalam kondisi netral (+0,37). Netral IOD berarti tidak ada pengaruh signifikan yang menekan atau memperkuat hujan,” kata Guswanto.
Selain itu, BMKG mengamati bahwa suhu muka laut di berbagai perairan Indonesia cenderung hangat. Kondisi suhu muka laut yang hangat, terutama di barat Sumatra, selatan Jawa, dan utara Sulawesi, dinilai sangat mendukung terbentuknya awan hujan. “Perairan Indonesia cenderung hangat, terutama di barat Sumatra, selatan Jawa, dan utara Sulawesi. Kondisi ini mendukung terbentuknya awan hujan,” tambah Guswanto.
BMKG memproyeksikan intensitas musim hujan akan mulai berkurang pada Maret 2027, menandai transisi menuju musim kemarau. Musim hujan secara keseluruhan diprediksi akan berakhir pada bulan April 2027.
Menyikapi prediksi ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk dapat menyesuaikan aktivitas sehari-hari dan melakukan mitigasi risiko terkait potensi bencana hidrometeorologi. Warga juga disarankan untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca terbaru dari BMKG. “BMKG menyarankan masyarakat tetap mengikuti update bulanan agar bisa menyesuaikan aktivitas dan mitigasi risiko,” pungkasnya.