25 Provinsi Dilanda Kekeringan Ekstrem Akibat El Nino, Bantul Catat 131 Hari Tanpa Hujan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi dampak fenomena El Nino semakin meluas dan memperparah kondisi kekeringan di seluruh Indonesia. Hingga kini, tercatat sebanyak 25 provinsi telah mengalami hari tanpa hujan (HTH) berturut-turut selama lebih dari 60 hari.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyatakan bahwa wilayah Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mencatat hari tanpa hujan terpanjang. “Banyak lokasi pengamatan yang sudah melaporkan hari tanpa hujan berurutan lebih dari 60 hari, yaitu tersebar di 25 provinsi, dengan hari tanpa hujan terpanjang saat ini di wilayah Bantul, yaitu sepanjang 131 hari atau lebih dari 4 bulan,” ujar Ardhasena dalam konferensi pers di Kantor BMKG Pusat pada Selasa (22/9/2026).

Ardhasena menjelaskan bahwa intensitas El Nino tahun ini tergolong kuat, dengan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik mencapai 2,83 pada akhir Agustus, dan rata-rata triwulanan (Juli-Agustus-September) tercatat 2,63. Secara historis, El Nino memiliki kecenderungan memperpanjang dan memperparah musim kemarau di Indonesia, terutama di wilayah yang berada di selatan garis khatulistiwa.

Fenomena El Nino ini diprediksi akan terus bertahan hingga awal tahun depan. “Untuk yang sekarang ini bertahan paling tidak hingga akhir kuartal pertama tahun 2027, ya. Tetapi dampaknya pada kekeringan di Indonesia akan selesai dengan masuknya kita ke musim hujan,” jelasnya lebih lanjut.

Dampak anomali iklim tahun ini bahkan menciptakan perubahan pada zona iklim di Indonesia. Wilayah yang secara alami memiliki musim hujan sepanjang tahun kini juga terdampak kemarau. “Secara klimatologis, Indonesia memiliki 110 zona musim atau 33% dari luas daratan yang karakteristik iklimnya adalah musim hujan sepanjang tahun. Namun untuk 2026 ini, 98 zona musimnya itu mengalami musim kemarau karena dampak anomali hujan lebih rendah akibat El Nino, sementara 12 zona musim yang lain tetap sama seperti klimatologinya,” pungkas Ardhasena.

Tinggalkan komentar