JAKARTA – Sejumlah pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta akademisi diundang ke Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis (24/9/2026). Mereka hadir dalam rapat terbatas (ratas) yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto untuk membahas strategi penanganan lahan gambut.
Para ahli dan akademisi terlihat memasuki kawasan Istana sekitar pukul 14.50 WIB. Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk mendiskusikan dua aspek utama terkait lahan gambut. Pertama, fokus pada penyelesaian masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mendesak. Kedua, membahas pemanfaatan lahan gambut secara berkelanjutan atau sustainable use.
Arif Satria memaparkan bahwa Indonesia memiliki kawasan hidrologis gambut seluas 24 juta hektare. Ia merujuk pada regulasi pemerintah yang menetapkan minimal 30% dari lahan tersebut harus difungsikan sebagai lindung ekosistem gambut, sementara pemanfaatan maksimalnya adalah 70%.
Dalam upaya penanganan karhutla, Arif menyebutkan bahwa alternatif penggunaan tepung berbahan dasar ubi sedang dalam tahap uji coba. “Itu masih terus diuji coba. Kita rutin dengan Polri sudah bekerjasama. Sudah diuji terus sampai saat ini. Dan tentu yang sekarang kita siapkan adalah bagaimana pemanfaatan secara lebih masif lagi,” ujarnya.
Sejumlah pakar dan akademisi yang hadir dalam rapat tersebut antara lain Bagus Muljadi dari Nottingham University, Azwar Maas dari UGM, Zakaria Amsari dari Universitas Tanjungpura, Haris Gunawan dari UNRI, Darmae Nasir dan Henrik Segah dari Universitas Palangka Raya, Yulianto Nugroho dari UI, Asmari Saad dari Universitas Jambi, Puji Lestari dan Indratmo Soekarno dari ITB, Made Hesti Lestari dari BRIN, Ahmad Kurnain dari Universitas Lambung Mangkurat, Bambang Kun Cahyono dari UGM, Sigit Sutikno dari UNRI, Ati Dwi Nurhayati dari IPB, Muhammad Agung Santoso dari UI, serta Elham Sumarga dari ITB.