Prabowo Dorong Pengelolaan Gambut Berbasis Sains, Libatkan Pakar dan Masyarakat

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar pengelolaan dan penanganan lahan gambut di Indonesia dilakukan secara ilmiah dan berbasis sains. Langkah ini juga akan melibatkan para pakar, akademisi, serta masyarakat desa sebagai upaya pencegahan dan penanganan kebakaran gambut.

Arahan tersebut disampaikan Prabowo dalam rapat terbatas mengenai penanganan kebakaran lahan gambut di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis (24/3/2026). Dalam pertemuan tersebut, turut hadir sejumlah akademisi dan pakar.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menjelaskan bahwa pelibatan para ilmuwan bertujuan untuk memperkuat kebijakan pengelolaan gambut yang didasarkan pada pengetahuan dan hasil penelitian. Presiden Prabowo juga menyetujui pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN).

“Bapak Presiden menyetujui karena berdasarkan pengalaman para ilmuwan ini ternyata memang keberadaan badan tersebut sangat penting. Data-data, kemudian izin-izin pengelolaan-pengelolaan yang dilakukan oleh satu lembaga itu akan sangat memudahkan, termasuk pada akhirnya untuk berbagai pencegahan dan lain-lainnya itu akan dapat dilakukan dengan mudah,” ujar Brian.

Brian menambahkan bahwa Presiden Prabowo mengarahkan agar BPGMN diperkuat dengan dukungan para ilmuwan dan saintis. Pengelolaan gambut akan didukung oleh pemetaan yang lebih komprehensif untuk mengidentifikasi karakteristik dan potensi lahan, serta menentukan kawasan yang sesuai untuk budidaya tanaman, perikanan, dan pemanfaatan lainnya.

Presiden juga menekankan pentingnya referensi dari pengetahuan dan praktik baik kearifan lokal. “Kemudian juga tadi disampaikan berbagai pengetahuan dan praktek-praktek baik kearifan lokal itu Bapak Presiden menyampaikan agar bisa digunakan sebagai referensi utama untuk nantinya bagaimana pengelolaan dan penanganan lahan gambut itu bisa dilakukan secara optimal,” katanya.

Dalam aspek penanganan kebakaran, Prabowo mendorong penguatan kembali pendekatan berbasis desa dan masyarakat melalui Masyarakat Peduli Api (MPA). Berdasarkan laporan kajian dari para ahli, masyarakat yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian memiliki peran krusial dalam melakukan respons awal yang cepat dan efektif.

“Tadi juga beberapa praktek baik disampaikan oleh para ilmuwan seperti membangun pompa yang cepat, bagaimana hitungan ketika penanganan dilakukan melalui udara dan sebagainya yang semuanya Bapak Presiden sangat menyambut baik agar hal-hal tadi bisa nantinya dijadikan sebagai referensi sekali lagi untuk badan yang akan segera dibentuk,” lanjut Brian.

Aspek edukasi juga menjadi perhatian, termasuk melalui sekolah dan pengembangan kurikulum mengenai pentingnya menjaga lahan gambut serta mencegah kebakaran. Brian menyampaikan bahwa Presiden meminta agar riset, penelitian, dan kajian mengenai gambut terus dilanjutkan demi mendukung pengelolaan lahan gambut Indonesia yang optimal.

“Intinya ke depan lahan gambut di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 33 juta hektare itu bisa dioptimalkan, bisa dimanfaatkan. Di satu sisi dia memproduksi sesuatu yang cocok tetapi di sisi lain yang jauh lebih penting adalah dengan adanya pengelolaan maka pencegahan itu bisa dilakukan dengan lebih baik,” tandasnya.

Tinggalkan komentar