Perairan Masalembo, Laut Jawa, yang menjadi lokasi kecelakaan Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8, kerap dikaitkan dengan cerita mistis dan dijuluki sebagai “Segitiga Bermuda Indonesia”. Namun, pakar menegaskan bahwa tingginya risiko pelayaran di kawasan ini dapat dijelaskan secara logis melalui kondisi laut dan cuaca yang dinamis.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menjelaskan bahwa Masalembo bukanlah wilayah angker yang secara otomatis menarik kapal hingga tenggelam. “Kompleksitas tersebut tidak berarti Masalembo memiliki fenomena laut yang misterius atau unik yang secara otomatis menyebabkan kapal tenggelam. Risiko pelayaran di kawasan ini lebih tepat dipahami sebagai hasil interaksi berbagai faktor antara lain angin, gelombang, arus, pasang surut, kondisi atmosfer, batimetri, karakteristik kapal, muatan, serta keputusan dan prosedur navigasi,” ujar Daryono dalam keterangan tertulis.
Menurut Daryono, posisi Masalembo sangat strategis karena diapit oleh Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores. Selat Makassar sendiri berperan sebagai jalur utama yang mengalirkan massa air berarus deras dari Samudra Pasifik menuju perairan Indonesia bagian selatan. Kawasan ini diibaratkan seperti persimpangan jalan raya yang padat, di mana perbedaan suhu, kadar garam (salinitas), hingga kedalaman air laut menciptakan pergerakan arus yang sangat kompleks.
Perbedaan densitas antarlapisan di Masalembo dapat menghasilkan stratifikasi laut dan shear arus, yaitu perbedaan kecepatan atau arah arus antara satu lapisan dengan lapisan lainnya. “Proses tersebut dapat berhubungan dengan turbulensi, pencampuran massa air, maupun fenomena gelombang internal. Namun, fenomena ini tidak boleh langsung dianggap sebagai penyebab kapal kehilangan daya apung atau kendali,” jelas Daryono.
Selain arus laut, faktor cuaca di Masalembo juga sangat memengaruhi keselamatan pelayaran. Pergerakan angin monsun Asia-Australia menyebabkan arah dan kecepatan angin di Masalembo bisa berubah-ubah. Kondisi ini kerap memicu fenomena cross-sea atau gelombang silang, yaitu situasi ketika dua atau lebih sistem gelombang dari arah berbeda bertemu dan saling bertabrakan.
Bagi kapal, hantaman gelombang dari berbagai arah ini dapat meningkatkan gerakan kapal, terutama rolling (miring ke kiri dan kanan) dan pitching (mengangguk ke depan dan belakang), serta menambah beban dinamis pada struktur kapal. “Cross-sea dapat meningkatkan gerakan kapal, terutama rolling (miring ke kiri dan kanan) dan pitching (mengangguk ke depan dan belakang), serta menambah beban dinamis pada struktur kapal,” kata Daryono.
Laut Masalembo yang hangat juga sangat disukai oleh pembentukan awan badai raksasa (Cumulonimbus). Awan ini bisa menyemburkan angin kencang secara mendadak (gust front) dan mengacaukan kondisi laut dalam waktu singkat. “Ketika awan Cumulonimbus berkembang kuat, dapat terjadi hujan lebat, petir, downdraft, dan gust front. Hembusan angin yang berubah cepat bisa menyebabkan kondisi laut berubah dalam waktu relatif singkat. Bagi kapal, perubahan mendadak pada angin dan gelombang dapat meningkatkan beban dan gerakan kapal,” kata Daryono.