JAKARTA – Indonesia kini memiliki kapal induk pertama yang diberi nama Kapal Republik Indonesia (KRI) Sriwijaya-100. Kapal ini sebelumnya merupakan bagian dari armada Angkatan Laut Italia dengan nama ITS Giuseppe Garibaldi.
Peresmian penamaan KRI Sriwijaya-100 dilaksanakan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Kamis (24/9/2026). Kapal yang telah mengabdi lebih dari empat dekade di Angkatan Laut Italia ini kini resmi memperkuat jajaran Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL).
Prosesi peresmian ditandai dengan pengibaran Bendera Merah Putih di atas dek kapal. Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto secara resmi mengukuhkan nama baru KRI Sriwijaya-100.
Alasan Pemilihan Nama Sriwijaya
Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali menjelaskan pemilihan nama Sriwijaya memiliki kaitan erat dengan sejarah kemaritiman Nusantara. Menurutnya, Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan maritim tertua di Indonesia, bahkan lebih tua dari Majapahit.
“Harapannya dengan penamaan itu, kita akan mengembalikan keemasan atau kejayaan kemaritiman Nusantara seperti yang lalu ya,” ujar Ali seusai peresmian di Tanjung Priok, Kamis (24/9).
Kerajaan Sriwijaya, yang berkembang dari abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi dengan pusat kekuasaan di sekitar Palembang, dikenal sebagai kekuatan politik, perdagangan, dan keagamaan yang berpengaruh luas di Asia Tenggara.
Penamaan ini diharapkan dapat merepresentasikan kembali kejayaan maritim Nusantara. Nama Sriwijaya juga menjadi simbol kekuatan maritim, persatuan wilayah, dan identitas Indonesia sebagai negara kepulauan.
Spesifikasi KRI Sriwijaya-100
Berdasarkan informasi dari laman IndonesiaBaik yang mengutip sumber TNI Angkatan Laut, KRI Sriwijaya-100 memiliki panjang 180,2 meter dan lebar 23,4 meter. Dek penerbangannya memiliki panjang 173,8 meter.
Kapal ini memiliki sarat air 6,7 meter dan bobot perpindahan mencapai 13.850 ton. Untuk sistem penggeraknya, KRI Sriwijaya menggunakan empat turbin gas FIAT/GE LM-2500 yang terhubung ke dua poros baling-baling, dengan total daya 60.400 kilowatt atau sekitar 80.998 horsepower.
Dengan spesifikasi tersebut, KRI Sriwijaya mampu mencapai kecepatan maksimum 30 knot dan memiliki jangkauan operasional hingga 7.000 mil laut. Kapal ini juga dilengkapi dengan sistem pertahanan diri, termasuk peluncur Albatros untuk rudal antipesawat Aspide, tiga sistem senjata DARDO, serta meriam Breda 40/70.
Kapal yang diluncurkan pada 20 Februari 1978 ini mulai bertugas di Angkatan Laut Italia pada 4 Juni 1983 sebelum akhirnya dihibahkan kepada Indonesia.
Data utama KRI Sriwijaya-100 meliputi: Nama sebelumnya: ITS Giuseppe Garibaldi Kelas: Garibaldi Nomor lambung: 551 Panjang: 180,2 meter Lebar: 23,4 meter Panjang dek penerbangan: 173,8 meter Bobot perpindahan: 13.850 ton Kecepatan maksimum: 30 knot Jangkauan: hingga 7.000 mil laut Sistem penggerak: COGAG dengan empat turbin gas FIAT/GE LM-2500 Daya: 60.400 kilowatt Sistem pertahanan: Albatros, DARDO, dan meriam Breda 40/70.
Dengan pengukuhan ini, KRI Sriwijaya-100 secara resmi menjadi bagian dari armada TNI AL, menandai era baru dalam kekuatan maritim Indonesia.