Kisah Bahia Bakari: Gadis 12 Tahun yang Selamat dari Tragedi Pesawat Yemenia Airways

Kecelakaan pesawat Yemenia Airways pada 29 Juni 2009 menjadi salah satu insiden tragis yang memilukan. Dari 153 orang yang berada di dalam pesawat Airbus A310-324, hanya satu penumpang yang berhasil selamat. Ia adalah seorang gadis berusia 12 tahun yang bertahan hidup dengan berpegangan pada sisa puing pesawat di lautan.

Pesawat dengan nomor penerbangan IY626 tersebut tengah dalam perjalanan reguler dari Sanaa, Yaman, menuju Moroni, Kepulauan Komoro. Saat itu, pesawat mengangkut total 153 orang, terdiri dari 142 penumpang dan 11 awak kabin. Mayoritas penumpang adalah warga negara Prancis dan Komoro.

Menurut dokumen National Transportation Safety Board (NTSB) Amerika Serikat, kecelakaan terjadi saat pesawat melakukan prosedur pendekatan pendaratan visual di malam hari menuju Bandara Internasional Moroni Prince Saïd Ibrahim. Kondisi cuaca buruk dengan hembusan angin mencapai 30 knot membuat manuver pesawat menjadi tidak stabil. Awak pesawat dilaporkan terfokus pada lintasan pendaratan dan tidak merespons alarm peringatan jarak tanah, yang berujung pada stall pesawat dan akhirnya jatuh menghantam Samudra Hindia sekitar 18 kilometer di utara-barat Kepulauan Komoro.

Bahia Bakari, Satu-satunya Penyintas

Satu-satunya korban selamat dari tragedi yang merenggut 152 nyawa itu adalah Bahia Bakari. Kisahnya terungkap saat ia memberikan kesaksian dalam sidang dugaan kelalaian maskapai Yemenia Airways di Pengadilan Paris pada 23 Mei 2022.

Pada hari nahas itu, Bahia dan ibunya sedang dalam perjalanan dari Paris menuju Kepulauan Komoro untuk menghadiri pernikahan kakeknya. Mereka sempat berganti pesawat di Sana’a, ibu kota Yaman. Bahia mengenang pesawat kedua yang mereka tumpangi terasa lebih kecil, dengan aroma kurang sedap dan keberadaan lalat, namun penerbangan berjalan normal hingga fase pendaratan.

Bahia menceritakan bagaimana pesawat Airbus A310 tersebut jatuh ke Samudra Hindia dengan mesin beroperasi penuh. Ia merasakan turbulensi hebat sebelum merasakan sengatan listrik di tubuhnya, lalu pingsan. Ketika sadar, ia mendapati dirinya sudah berada di laut.

“Saya mulai merasakan turbulensi, tetapi tidak ada yang bereaksi berlebihan, jadi saya berkata pada diri sendiri bahwa hal itu pasti wajar,” ujar Bahia Bakari dalam kesaksiannya.

Selama 12 jam, Bahia bertahan di dalam air, berpegangan erat pada puing-puing pesawat. Ia sempat mendengar suara-suara teriakan minta tolong dalam bahasa Komoro dan berusaha membalas, namun tidak dapat melihat siapa pun. Akhirnya, Bahia berhasil dievakuasi. Ia baru mengetahui bahwa dirinya adalah satu-satunya yang selamat setelah diberitahu oleh psikolog rumah sakit, dan saat itu ia juga harus menerima kenyataan bahwa ibunya telah tiada.

Dalam sidang tersebut, tim penyelidik tidak menemukan adanya kerusakan teknis pada pesawat. Kecelakaan ini disimpulkan akibat tindakan lalai dari awak pesawat saat proses pendaratan yang menyebabkan hilangnya kendali atas pesawat.

Tinggalkan komentar