Jakarta – Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari Daerah Pemilihan Riau I, Iyeth Bustami, mengajak para pendidik untuk memperkuat benteng moral dan karakter generasi muda dalam menghadapi derasnya disrupsi digital.
Ajakan ini disampaikan Iyeth dalam agenda Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang diselenggarakan oleh Kelompok I Badan Sosialisasi MPR RI berkolaborasi dengan Komunitas Biru Nusantara (Kobinus) di Hotel Grand Travello, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Sabtu (12/9/2026).
Dalam pemaparannya, Iyeth Bustami menekankan bahwa Sosialisasi Empat Pilar MPR RI—yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika—bukan sekadar hafalan. Ia menganggap sosialisasi ini sebagai kompas etika kehidupan bermasyarakat yang kini menghadapi tantangan berat akibat dampak negatif media sosial.
“Negara kita semakin maju dan teknologi kian canggih, namun yang paling saya khawatirkan adalah dampak buruk media sosial terhadap anak-anak kita yang secara mental masih labil,” ujar Iyeth dalam keterangan tertulisnya, Minggu (13/9/2026).
Iyeth Bustami juga membagikan pengalaman pribadinya yang kerap menjadi sasaran ujaran kebencian di dunia maya akibat tuntutan perannya di televisi. Menurutnya, hal ini mencerminkan fenomena pudarnya batas kesantunan di ruang digital, di mana orang merasa bebas menghujat tanpa memikirkan empati maupun etika bertatap muka.
“Begitu mudahnya sumpah serapah terlontar di media sosial. Saya titip kepada bapak dan ibu guru, tolong ingatkan anak didik kita bahwa saat hendak mengetik komentar di media sosial, bayangkan orang itu berada langsung di depan muka kita. Apakah kita berani bicara sekasar itu? Di depan orang kita selalu menjaga tata krama, tetapi di gawai banyak yang merasa kebal,” tegas Iyeth.
Iyeth Bustami menyoroti fenomena “strawberry generation” serta pergeseran budaya di kalangan remaja saat ini. Perubahan ini terlihat mulai dari bahasa pergaulan yang kerap menormalisasi makian dengan bahasa yang kurang pantas, perubahan gaya berpakaian yang menabrak norma ketimuran, hingga menurunnya ketahanan mental generasi muda.
“Gawai memang ada manfaatnya untuk ilmu pengetahuan, tetapi mudaratnya juga luar biasa jika diserap tanpa saringan. Di sinilah peran vital bapak dan ibu guru serta orang tua untuk membimbing dan membentengi mereka dengan nilai-nilai agama serta budi pekerti luhur,” imbuhnya.
Terakhir, Iyeth Bustami menaruh harapan besar di pundak para guru sebagai garda terdepan pendidikan bangsa untuk terus mentransfer dan membumikan nilai-nilai Pancasila di lingkungan sekolah.
“Bapak dan ibu guru adalah pihak yang paling tepat hadir di sini, karena bapak dan ibulah penyambung lidah yang berhadapan langsung dengan generasi penerus kita setiap hari. Mari bersama-sama kita jaga masa depan generasi muda dan rawat keutuhan bangsa dengan nilai-nilai Empat Pilar,” pungkasnya.
Acara tersebut juga dihadiri oleh Anggota Badan Sosialisasi MPR RI lainnya, yakni Junaidi Auly dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Dapil Lampung II, dan Nurwayah dari Fraksi Partai Demokrat Dapil DKI Jakarta III.