IPB Pasang Stasiun Cuaca Otomatis di Merauke untuk Dukung Kesejahteraan Petani

Merauke, Papua Selatan – Ketidakpastian cuaca dan tantangan iklim menjadi isu krusial yang dihadapi para petani di Distrik Kurik, Kabupaten Merauke. Kondisi ini menjadi salah satu hambatan utama dalam upaya mengoptimalkan produktivitas pertanian di wilayah tersebut.

Menjawab tantangan ini, Tim Ekspedisi Patriot IPB University mengambil inisiatif dengan memasang Automatic Weather Station (AWS). Pemasangan alat ini bertujuan untuk memetakan dan menyediakan data cuaca yang akurat bagi masyarakat lokal dan para transmigran melalui aplikasi digital.

Langkah ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan keberlanjutan pertanian dan peningkatan kesejahteraan petani melalui pemanfaatan teknologi. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan komitmen pemerintah untuk memberikan solusi nyata di lapangan.

“Jangan sampai teman-teman Ekspedisi Patriot sudah turun ke lapangan, sudah mendengarkan masyarakat, kemudian berhenti di masalah. Kita harus menghadirkan solusi yang terbaik, relevan, feasible, dan masuk akal,” ujar Menko AHY dalam keterangan tertulis, Senin (21/9/2026).

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara turut menggarisbawahi pentingnya kontribusi Tim Ekspedisi Patriot melampaui sekadar penyusunan laporan. Ia mendorong agar tim mampu menghadirkan solusi konkret yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

“Jangan hanya meninggalkan laporan. Tinggalkan karya. Tinggalkan solusi. Dan yang paling penting, tinggalkan manfaat yang terus dirasakan masyarakat,” tegas Mentrans M. Iftitah Sulaiman Suryanagara.

Pemasangan AWS oleh Tim Ekspedisi Patriot IPB University menjadi wujud nyata kontribusi pemuda dalam memajukan sektor pertanian di kawasan transmigrasi Merauke melalui inovasi berbasis teknologi.

Dengan memanfaatkan stasiun cuaca otomatis ini, petani di Kampung Harapan Makmur kini dapat mengakses data cuaca secara langsung. Sistem digital ini memungkinkan mereka untuk memprediksi iklim hingga 15 hari ke depan, sekaligus mengantisipasi risiko kekeringan dan serangan hama.

Teknologi AWS ini memiliki jangkauan hingga 40 kilometer, mencakup area lahan pertanian yang luas. Kehadiran stasiun cuaca ini disambut antusias oleh para transmigran yang bergantung pada sektor agraris, mengingat krusialnya dukungan teknologi ini bagi keberlanjutan mata pencaharian mereka.

“Karena dengan pemasangan itu, kita dimudahkan. Petani sangat dibantu, karena masyarakat Kampung Harapan Makmur mayoritas penghidupannya adalah dari pertanian. Sehingga dengan adanya alat itu, warga petani Kampung Harapan Makmur sangat terbantu, dan dengan harapan ke depannya dapat bermanfaat, dapat meningkatkan kualitas hasilnya,” ujar Sutamto, Kepala Kampung Harapan.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot IPB University, Ahmad Junaidi, menjelaskan bahwa timnya akan terus memberikan pendampingan kepada para petani untuk menerapkan praktik pertanian cerdas iklim. Pendampingan ini meliputi penyusunan kalender tanam, pengaturan sistem irigasi, hingga antisipasi hama yang presisi melalui dashboard digital.

“Kita akan menjadikan petaninya, petani yang bertani dengan cerdas iklim. Nah, cerdas iklim ini kan, jadi bagaimana bertani menyesuaikan dengan karakter agroklimat yang ada di sana, ya, termasuk nanti mempelajari betul bagaimana kecukupan air dan karakter-karakter agroklimat serta konsekuensi dari agroklimat itu untuk pertanian,” pungkas Junaidi.

Tinggalkan komentar