Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menekankan pentingnya komunikasi terbuka mengenai potensi bencana yang mengancam ibu kota. Langkah ini diambil menyusul peringatan dini tanah longsor yang dikeluarkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta.
Pramono Anung menjelaskan bahwa penyampaian informasi ancaman bencana kepada publik sangat krusial. Tujuannya agar masyarakat tidak kaget dan dapat mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk.
“Iya, saya memang menyampaikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah, semua potensi ancaman itu dikomunikasikan kepada publik, kepada masyarakat, supaya masyarakat tidak terkaget-kaget,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Ia menambahkan bahwa peringatan dini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memberikan informasi kepada warga. Dengan demikian, diharapkan bencana yang diperingatkan tidak sampai terjadi.
“Sehingga dengan demikian, apa yang disampaikan kepada publik kalau saya ya, mudah-mudahan enggak terjadi. Tetapi itu bagian dari memperingatkan kepada masyarakat,” tuturnya.
Gubernur mencontohkan pentingnya komunikasi publik dalam menghadapi bencana alam. Menurutnya, informasi yang disampaikan sejak dini dapat membuat masyarakat lebih siap. “Seperti antisipasi kita ketika Gunung Krakatau atau Anak Gunung Krakatau, itu kan terjadi cepat karena memang dikomunikasikan,” katanya.
Sebelumnya, BPBD DKI Jakarta telah mengeluarkan serangkaian peringatan dini di wilayah ibu kota. Peringatan tersebut mencakup ancaman kekeringan meteorologis, potensi gerakan tanah atau tanah longsor, serta cuaca angin kencang dan gelombang laut di kawasan perairan. Informasi ini disampaikan melalui akun Instagram resmi BPBD DKI Jakarta, @bpbddkijakarta.