MAKASSAR – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, didampingi Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, menyerukan ribuan sumber daya manusia (SDM) Program Keluarga Harapan (PKH), operator data desa, dan pilar-pilar sosial di Sulawesi Selatan untuk meningkatkan akurasi data penerima bantuan sosial (bansos). Upaya ini diharapkan dapat memastikan masyarakat yang benar-benar layak menerima bantuan tercatat dengan tepat dalam sistem.
Ajakan ini disampaikan Gus Ipul dalam acara Gerakan Nasional Peduli Tetangga untuk Perlindungan Sosial yang diselenggarakan di Aula Arafah, Asrama Haji Makassar, Sulawesi Selatan, pada Selasa (15/9/2026). Menurutnya, fondasi utama dalam penyaluran bantuan yang efektif adalah data yang akurat.
“Bekerja itu harus dimulai dengan data yang akurat agar sasarannya tepat,” ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulis yang dirilis pada Rabu (16/9/2026).
Perbaikan data ini juga menjadi krusial dalam menangani temuan terkait penyalahgunaan identitas penerima bansos, termasuk kasus yang berkaitan dengan judi online. Kementerian Sosial (Kemensos) sering kali mendapati identitas penerima bantuan disalahgunakan oleh pihak lain untuk keperluan di luar tujuan bansos. Di Sulawesi Selatan sendiri, tercatat sebanyak 25.214 keluarga penerima manfaat (KPM) terindikasi memiliki keterkaitan dengan aktivitas judi online.
“Jadi, banyak sekali kasus yang kita temukan, di mana lansia, sebatang kara, tidak dapat bansos, tetapi ternyata KTP-nya dimanfaatkan orang lain. Nah, yang seperti ini kita dalami, kita telusuri, dan tetap kita beri bantuan sambil kita luruskan KTP yang dimanfaatkan orang lain,” jelasnya.
Gus Ipul membuka kesempatan seluas-luasnya bagi berbagai elemen, mulai dari SDM PKH, operator data desa, pemerintah desa, hingga masyarakat umum, untuk memberikan usulan dan koreksi dalam proses perbaikan data.
“RT, RW bisa mengoreksi sekarang. Kepala desa lewat operator data desa boleh. Setiap orang boleh mengoreksi, boleh usul, boleh sanggah,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat masih memiliki ruang untuk mengajukan sanggahan jika terjadi kekeliruan dalam pengelompokan desil penerima bantuan.
“Kalau ada kesalahan desil, kita masih sangat memberikan kesempatan untuk melakukan sanggahan atau juga mungkin diusulkan kembali untuk mendapatkan bansos. Karena memang belum semua data itu kita lakukan ground check,” ujarnya.
Untuk memperluas jangkauan partisipasi, Gus Ipul mengajak para pendamping dan unsur pilar sosial di seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Selatan untuk turut mengampanyekan program agen Perlinsos. Ajakan ini juga diperluas kepada RT/RW, karang taruna, komunitas, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.
“Siapa pun bisa, para wartawan juga bisa. Agen Perlinsos ini menjadi relawan. Tidak ada upah, tidak ada gaji, tidak ada honor,” tutur Gus Ipul.
Ia menekankan bahwa peran agen Perlinsos adalah membantu proses pengusulan, sementara data yang masuk tetap akan melalui proses verifikasi sistem dan validasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
“Untuk itu, mari kita sukseskan Gerakan Nasional Peduli Tetangga. Kita mulai dari yang dekat. Kita mulai dari tetangga-tetangga kita, saudara-saudara kita,” tutupnya.
Selain arahan langsung, acara tersebut juga diisi dengan pemutaran video pengenalan agen Perlinsos dan panduan cara menjadi agen Perlinsos. Rangkaian kegiatan ini turut dimeriahkan oleh penampilan video inspiratif, baris variasi, tari, pidato empat bahasa, serta paduan suara dari siswa Sekolah Rakyat.
Kegiatan ini dihadiri oleh ribuan peserta yang meliputi SDM PKH, Taruna Siaga Bencana (Tagana), operator data desa, Karang Taruna, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), dan Pelopor Perdamaian se-Sulawesi Selatan.