Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan rencana pembangunan lanjutan jalur Light Rail Transit (LRT) Jakarta yang akan menghubungkan Manggarai dengan Dukuh Atas. Proyek ini dijadwalkan akan dimulai pada tahun 2027 dan ditargetkan selesai pada Agustus 2028.
Pernyataan tersebut disampaikan Pramono usai acara peresmian Gedung PMI DKI Jakarta pada Kamis (17/9/2026). Ia memastikan bahwa anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan jalur ini sudah tersedia. “Untuk pembangunan dari Manggarai sampai dengan Dukuh Atas, saya sudah meminta karena dananya sudah ada, paling lama Januari untuk dimulai supaya tahun 2028 bulan Agustus sudah bisa selesai sampai dengan Dukuh Atas,” jelas Pramono.
Sebelumnya, Pramono telah menyatakan bahwa kawasan Manggarai akan dikembangkan menjadi pusat transportasi baru. Pengembangan ini didorong oleh peningkatan signifikan jumlah masyarakat yang menggunakan berbagai moda transportasi di area tersebut. “Di tempatnya Manggarai itu nanti akan menjadi hub baru, karena kurang lebih setiap hari sekitar 1.200.000 sampai dengan 1.300.000 orang yang akan berhenti di sana,” ujarnya.
Menurut data yang disampaikan, pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) masih menjadi mayoritas di kawasan Manggarai, diikuti oleh pengguna LRT dan Transjakarta. “Paling banyak menggunakan KRL, yang kedua menggunakan LRT, dan kemudian Transjakarta,” kata Pramono.
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga berencana melakukan pembenahan kawasan Manggarai agar dapat berfungsi optimal sebagai pusat transportasi. “Maka dengan demikian sekarang ini yang akan segera dilakukan adalah melakukan pembenahan untuk Manggarai supaya bisa segera berfungsi dengan baik,” tuturnya.
Pramono juga menegaskan komitmennya untuk memperkuat konektivitas menuju seluruh stasiun LRT. Ia telah meminta pihak TransJakarta untuk menyediakan layanan di setiap titik stasiun LRT. “Semua jalur untuk LRT, ada 11 titik, saya sudah memerintahkan untuk TransJakarta masuk di semua itu,” ungkapnya.
Jika layanan TransJakarta tidak dapat menjangkau lokasi tertentu, Pramono menambahkan bahwa konektivitas tersebut dapat dipenuhi melalui layanan Mikrotrans atau JakLingko. “Hanya memang kalau memang TransJakarta tidak bisa digunakan, maka Mikrotrans, apakah itu Jaklingko dan sebagainya,” imbuhnya.