JAKARTA – Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono mengapresiasi inisiatif dari Institusi Disabilitas Indonesia (Indisi) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang telah membekali 210 siswa-siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) jenjang SMA dengan literasi keuangan. Acara ini bertujuan untuk membuka wawasan dan mempersiapkan para penyandang disabilitas menghadapi masa depan yang lebih mandiri.
Agus Jabo berharap kegiatan ini menjadi langkah awal dalam mewujudkan ekosistem ketenagakerjaan yang inklusif. Ia menekankan pentingnya kesempatan kerja yang setara bagi penyandang disabilitas agar mereka dapat mengembangkan potensi, meningkatkan kemandirian, dan berkontribusi aktif dalam pembangunan nasional. “Kita ingin penyandang disabilitas tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku pembangunan yang aktif, mandiri, produktif dan memiliki kesempatan yang sama,” ujar Agus Jabo dalam keterangannya pada Senin (21/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan saat ia menjadi pembicara kunci pada acara Pembukaan Perdagangan Sesi II Bursa Efek Indonesia (BEI) yang bertajuk ‘Pasar Modal Untuk Sobat Disabilitas’ di Main Hall BEI, Jakarta. Dalam kesempatan itu, Agus Jabo menyoroti pentingnya data dalam membangun perekonomian yang inklusif. Ia menyebutkan bahwa Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) mencatat lebih dari 14 juta penyandang disabilitas di Indonesia.
“Ketika kita berbicara mengenai kesempatan kerja bagi saudara-saudara kita, anak-anak kita penyandang disabilitas, kita sesungguhnya sedang berbicara mengenai pemenuhan hak kesetaraan, kesempatan dan pembangunan manusia yang inklusif,” jelas Agus Jabo. Ia menambahkan bahwa penyandang disabilitas memiliki keragaman kemampuan dan talenta, namun seringkali menghadapi hambatan di lingkungan kerja, akses pendidikan, pelatihan, informasi pekerjaan, hingga proses rekrutmen.
Agus Jabo menegaskan bahwa tugas bersama adalah membangun sistem ketenagakerjaan yang memungkinkan penyandang disabilitas untuk masuk, bertahan, berkembang, dan memiliki kesempatan karir yang setara. Ia menekankan pentingnya kesetaraan yang harus dipahami oleh seluruh masyarakat Indonesia. Pemerintah telah memberikan landasan hukum yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang mewajibkan kuota 2 persen bagi penyandang disabilitas di instansi pemerintah dan BUMN, serta 1 persen di sektor swasta.
Namun, Agus Jabo menilai regulasi saja tidak cukup. Diperlukan perubahan pendekatan dalam memandang penyandang disabilitas, dari sekadar penerima bantuan menjadi subjek pembangunan, pekerja profesional, wirausahawan, dan pelaku ekonomi. Program pemberdayaan sosial dan ekonomi harus disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja, pelatihan keterampilan harus terhubung dengan pasar, pendidikan vokasional dengan industri, serta informasi lowongan pekerjaan harus mudah diakses.
“Lingkungan kerja harus menyediakan akomodasi yang layak dan aksesibilitas yang diperlukan bagi mereka yang telah diterima bekerja,” tambah Agus Jabo. Ia juga menekankan bahwa pembangunan lapangan kerja yang inklusif membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, terutama dunia usaha yang berperan penting dalam membuka kesempatan dan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif.
Kolaborasi antara Indisi dan BEI dalam memberikan literasi keuangan dan pengenalan pasar modal diapresiasi oleh Agus Jabo. Ia berharap kegiatan ini menjadi upaya nyata dalam membangun kemandirian, kepercayaan diri, pengetahuan, dan kesiapan masa depan para penyandang disabilitas, termasuk dalam mengelola pendapatan, merencanakan kebutuhan, menabung, dan memahami pilihan keuangan. “Literasi keuangan merupakan bagian penting dari keterampilan hidup. Inilah semangat yang sejalan dengan pembangunan inklusif,” ungkapnya.
Agus Jabo juga berpesan kepada para siswa agar memulai investasi dari pengetahuan, mengenali risiko, mempelajari produk, dan memastikan sumber informasi yang terpercaya, bukan sekadar mengikuti tren atau janji keuntungan cepat. Ia berharap kolaborasi semacam ini dapat diperluas ke bidang lain seperti pengembangan keterampilan kerja, kewirausahaan, teknologi digital, dan perencanaan keuangan.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa inklusi adalah bagian penting pengembangan pasar modal. Ia berharap pasar modal dapat memberikan manfaat bagi sebanyak-banyaknya masyarakat. Jeffrey mengapresiasi perhatian terhadap kesetaraan akses bagi penyandang disabilitas dalam edukasi dan akses pasar modal. BEI sendiri telah menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dan mendukung peningkatan aksesibilitas, termasuk apresiasi terhadap penerbitan buku investasi dalam huruf Braille dan pengembangan aplikasi investasi bagi tunanetra.
Ketua Harian Indonesia Disabilitas Institut (Indisi), Citragama Prameswari, menyampaikan bahwa fokus Indisi tahun ini adalah pemberdayaan penyandang disabilitas melalui dunia pendidikan untuk mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja. Ia percaya bahwa kesempatan yang diberikan dapat mendorong potensi yang belum terlihat. Kunjungan siswa SLB ke Kantor BEI diharapkan membekali peserta dengan keterampilan, kemandirian, wawasan, dan kepercayaan diri. Indisi juga mendorong keterhubungan antara pendidikan inklusi dan industri agar perusahaan lebih mengenali potensi penyandang disabilitas dan membuka kesempatan yang setara.