Sebanyak 1.216 insiden kebakaran dilaporkan terjadi di wilayah DKI Jakarta selama periode 1 Januari hingga 31 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, Jakarta Barat menjadi daerah yang paling banyak mengalami kejadian kebakaran.
Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta, Bayu Megantara, merinci bahwa Jakarta Barat mencatat 368 kejadian atau 30,26% dari total kasus. Posisi kedua ditempati oleh Jakarta Timur dengan 299 kejadian (24,59%).
“Kemudian, Jakarta Selatan tercatat 252 kejadian (20,72%), Jakarta Utara 163 kejadian (13,40%), dan Jakarta Pusat 134 kejadian (11,02%),” jelas Bayu dalam keterangannya pada Rabu (23/9/2026).
Berdasarkan dugaan penyebab, masalah kelistrikan menjadi faktor dominan. Sebanyak 649 kejadian atau 53,37% kebakaran diduga dipicu oleh gangguan pada sistem kelistrikan.
Selain itu, penyebab lain yang signifikan meliputi pembakaran sampah yang mengakibatkan 171 kejadian (14,06%), masalah gas sebanyak 103 kejadian (8,47%), faktor lain-lain sebanyak 100 kejadian (8,22%), serta kelalaian manusia yang menyebabkan 88 kejadian (7,24%).
Jika ditinjau dari objek yang terbakar, bangunan perumahan mendominasi dengan 358 kejadian atau 29,44%.
“Berikutnya, bangunan umum dan perdagangan sebanyak 230 kejadian (18,91%), instalasi listrik luar gedung 194 kejadian (15,95%), dan sampah 174 kejadian (14,31%),” ungkapnya.
Dari sisi waktu, puncak kejadian kebakaran tertinggi terjadi pada bulan Juli 2026, dengan total 240 kejadian atau 19,74% dari seluruh kasus. Bulan sebelumnya, Juni 2026, mencatat 217 kasus (17,85%). Sementara itu, jumlah kejadian pada Januari hingga Mei berturut-turut adalah 129, 126, 132, 138, dan 141 kejadian. Pada bulan Agustus tercatat 93 kejadian kebakaran.