Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melakukan pertemuan bilateral dengan Wali Kota New York Zohran Kwame Mamdani di Civic Hall, New York. Dalam pertemuan tersebut, keduanya bertukar pikiran mengenai berbagai tantangan yang dihadapi kota metropolitan, termasuk rencana Pemprov DKI Jakarta untuk menerbitkan obligasi daerah yang disebut Jakarta Bond.
Pramono memaparkan bahwa Pemprov DKI Jakarta berencana menggunakan instrumen obligasi daerah sebagai salah satu skema pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur perkotaan. Rencana ini mendapat sambutan positif dari Mamdani, yang bahkan menawarkan bantuan tim keuangan Pemerintah Kota New York untuk berbagi pengalaman terkait persiapan dan proses penerbitan obligasi daerah.
“Saya sangat antusias dan mendukung rencana Jakarta menerbitkan obligasi daerah. New York juga telah menggunakan obligasi untuk membiayai pembangunan infrastruktur, termasuk pengolahan limbah dan berbagai fasilitas publik,” ujar Mamdani dalam keterangannya, Senin (21/9/2026). Ia menambahkan, “Kami siap mengirimkan tim keuangan untuk berbagi pengalaman dengan Pemprov DKI Jakarta mengenai persiapan dan proses penerbitan obligasi daerah.”
Selain membahas potensi penerbitan obligasi daerah, pertemuan yang berlangsung di Civic Hall, New York itu juga menyentuh berbagai persoalan perkotaan yang dihadapi kedua kota. Diskusi mencakup isu transportasi publik, penanganan banjir, polusi udara, hingga pembiayaan pembangunan.
Pramono menjelaskan strategi Jakarta dalam mengatasi kemacetan, salah satunya melalui pengembangan Transjabodetabek. Tujuannya adalah memperkuat konektivitas antara Jakarta dengan wilayah penyangga untuk mengurangi volume kendaraan yang masuk ke ibu kota.
“Setiap hari lebih dari empat juta orang keluar-masuk Jakarta, terutama pada jam sibuk. Melalui Transjabodetabek, kami ingin mengurangi kemacetan dan volume kendaraan yang masuk ke Jakarta sekaligus memperkuat konektivitas wilayah,” kata Pramono.
Ia juga menyampaikan kebijakan layanan transportasi umum gratis yang diberikan kepada 15 golongan masyarakat, termasuk lansia, penyandang disabilitas, pelajar penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP), serta mahasiswa penerima Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU).
Sementara itu, terkait isu banjir, Pramono memaparkan upaya Jakarta dalam memperkuat infrastruktur pengendalian banjir. Langkah-langkah ini meliputi pengurangan penggunaan air tanah untuk menekan penurunan muka tanah, serta pengembangan proyek Giant Sea Wall.
“Sama seperti New York, salah satu tantangan Jakarta adalah banjir. Karena itu, kami terus memperkuat infrastruktur pengendalian banjir, mengurangi penggunaan air tanah untuk menekan penurunan muka tanah, serta mengembangkan Giant Sea Wall,” jelasnya.
Pertemuan bilateral ini menjadi momentum penting bagi Jakarta dan New York untuk bertukar pengalaman dalam menghadapi tantangan sebagai kota besar. Kedua pihak juga membuka peluang kerja sama yang lebih konkret di masa mendatang, khususnya dalam bidang pembiayaan pembangunan perkotaan.