Gus Ipul Siap Tempuh Jalur Hukum untuk Somasi Tiga Orang Terkait Narasi Muktamar NU

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa bakti 2021-2026, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, menyatakan akan mengambil langkah hukum terhadap individu yang terus menyebarkan tudingan dan narasi terkait penyelenggaraan Muktamar NU di media sosial. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk memberikan pembelajaran bahwa setiap pernyataan publik harus didukung oleh bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai tahap awal, PBNU akan melayangkan somasi kepada tiga orang. Mereka akan diminta untuk membuktikan kebenaran dari pernyataan-pernyataan yang telah mereka sampaikan kepada publik. “Ada tiga orang yang akan kita somasi. Mereka akan kita minta untuk membuktikan apa yang sudah mereka ucapkan. Kalau tidak bisa membuktikan, tentu akan kita teruskan melalui jalur hukum,” ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulisnya, Rabu (23/9/2026).

Gus Ipul menjelaskan bahwa tindakan ini bukan bertujuan untuk membatasi kritik atau perbedaan pendapat, melainkan untuk menegaskan pentingnya akuntabilitas dalam menyampaikan pandangan di ruang publik. “Kita mencatat, kita mencermati semua pendapat yang diberikan oleh kader-kader NU di media sosial. Tentu setiap yang disampaikan harus dipertanggungjawabkan. Saya sedang mempertimbangkan untuk mengambil jalur hukum sebagai bagian dari pembelajaran untuk kita semua,” tuturnya.

Pernyataan Gus Ipul ini disampaikan setelah berdiskusi dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Addin Jauharudin, mengenai situasi terkini NU pasca-Muktamar. Gus Ipul menekankan bahwa Muktamar telah berlangsung secara terbuka dan demokratis, dengan seluruh keputusan merupakan hasil dari forum resmi para peserta.

“Muktamar sudah selesai. Yang kalah terhormat, yang menang bermartabat. Perdebatan terjadi di sana. Tidak ada penolakan terhadap Laporan Pertanggungjawaban PBNU sebelumnya. Pilihannya demokratis, merupakan titipan langsung dari peserta Muktamar. Tidak ada titipan dari mana pun,” tegas Gus Ipul.

Oleh karena itu, Gus Ipul menyayangkan munculnya berbagai narasi di media sosial yang terus memperdebatkan proses Muktamar setelah forum resmi tersebut berakhir. “Kita prihatin ada berita-berita yang luar biasa di luar sana, khususnya di media sosial, yang terus dikembangkan oleh sejumlah pihak,” ungkapnya.

Gus Ipul menambahkan bahwa kritik dan perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam sebuah organisasi. Namun, kebebasan berpendapat harus diimbangi dengan tanggung jawab terhadap fakta dan konsekuensi dari setiap pernyataan. “Kalau seseorang menyampaikan tudingan, silakan dibuktikan. Jangan hanya melempar pernyataan ke ruang publik kemudian merasa tidak memiliki tanggung jawab. Tiga orang ini akan kita beri kesempatan melalui somasi untuk menunjukkan bukti atas apa yang mereka sampaikan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum GP Ansor Addin Jauharudin menegaskan legitimasi penuh atas seluruh proses Muktamar yang telah selesai. Ia mengimbau seluruh kader dan warga NU untuk menghentikan perdebatan mengenai hasil Muktamar dan mendukung kepemimpinan yang baru. “Muktamar sudah selesai. Semua proses dari A sampai Z sudah punya legitimasi penuh. Karena itu saya mengimbau seluruh sahabat dan warga NU, mari kita sudahi perdebatan soal Muktamar. Kita dukung sepenuhnya kepemimpinan yang baru agar bisa membawa NU kepada kemaslahatan dan kemajuan,” ujar Addin.

Addin menekankan bahwa perbedaan pendapat yang muncul selama Muktamar seharusnya berakhir setelah keputusan forum diambil. Seluruh elemen NU memiliki tanggung jawab untuk menjaga marwah organisasi dan kembali berkonsentrasi melayani umat. “Jangan biarkan perpecahan internal menjadi tontonan banyak pihak. Jika kita masih merasa menjadi bagian dari NU, mari jaga martabat jam’iyyah ini bersama-sama. Baik yang berada di struktur maupun kultur, kita kembali ke khidmat masing-masing secara maksimal. Umat menanti langkah kita,” pesannya.

Gus Ipul mengapresiasi sikap tersebut dan menekankan pentingnya semangat rekonsiliasi, persatuan, dan penghormatan terhadap keputusan organisasi pasca-Muktamar. “Yang kalah terhormat, yang menang bermartabat. Sekarang waktunya kembali berkhidmat. NU saklawase,” tutup Gus Ipul.

Tinggalkan komentar